Oleh
M. Nurachman
(Wakil
Ketua PD. Pemuda Pesatuan Islam Sumedang)
Siapa
yang tidak kenal dengan Walisongo? Mulai anak TK sampai mahasiswa pasti
mengenal dan mengatahui siapa Walisongo itu. Bukan tanpa alasan, foto atau
lukisan Walisongo/sembilan wali penyebar agama Islam di pulau Jawa di pajang
hampir di setiap ruang kelas mulai dari pendidikan tingkat bawah sampai dengan
tingkat atas. Tak sedikit juga warga masyarakat yang memajang foto atau lukisan
Walisongo di rumah-rumah dengan maksud ngalab berkah atau mencari
barokah. Bahkan banyak juga lembaga atau organisasi yang tiap tahunnya
mengadakan wisata religi ke makam para Wali tersebut.
Tidak
sulit untuk mendapatkan foto atau lukisan Walisongo, di emper jalan banyak kita
temui penjual foto atau lukisan walisongo tersebut mulai dari harga murah
sampai mahal. Tapi tak sedikit yang tahu peran dan jasa Walisongo dalam
menyebarkan Islam di pulau Jawa. Ada pula yang mengatakan bahwa Walisongo
termasuk tokoh fiktif dengan “segudang” irasional yang meliputi kisah
“kesaktian” para Wali tersebut.
Dewasa
ini di Indonesia sedang tumbuh subur universitas atau perguruan tinggi dengan
tujuan mencetak kaum intelektual yang mumpuni. Tapi masih ada kalau tidak mau
disebut banyak, yang masih mempercayai kejadian-kejadian di luar nalar perihal
Walisongo dari kalangan intelektual tersebut. Maka dari itu pemahaman yang
benar mengenai Walisongo sangat mendesak untuk di paparkan.
1. Definisi Walisongo
Ada
beberapa pendapat mengenai arti Walisongo. Pertama adalah wali yang
sembilan, menandakan jumlah wali yang sembilan orang, atau sanga dalam
bahasa Jawa. Wali berasal dari bahasa Arab suatu bentuk singkatan dari waliyullah
yang artinya wali Allah; sahabat Allah; orang yang mencintai dan dicintai Allah
(Dadan Wildan, 2012:199, Rachmat Abdullah, 2016:64 & Ricklefs, 2008:8).
Wali juga bermakna orang shaleh (suci); penyebar agama; kepala pemerintahan dan
sebagainya (Depdiknas, 2005:1267).
Kata
wali berasal dari bahasa Arab wala atau waliya yang
berarti qoroba, yaitu dekat dengan; menguasai, mengurus, memerintah,
menolong, dan lain-lain (Sholeh So’an 2002:50). Dalam al-Qur’an istilah
tersebut (wali) dipakai dengan pengertian kekasih (baca: Q.S. al-Jumu’ah [62] :
6), pelindung (baca: Q.S. al-Baqarah [2] : 107), penolong (baca: Q.S. at-Taubah
[9] : 71), pemimpin (baca: Q.S. al-Maidah [5] : 57), teman setia (baca: Q.S.
Fushshilat [41] : 34). (Risalah, No. 11 Februari 2010:28-29).
Bertalian
dengan istilah wali, terdapat beberapa pendapat, diantaranya sebagai berikut:
-
Muhammad
Jamaluddin al-Qasimi berkata “Kata wali menurut makna asalnya ialah kebalikan
dari musuh, dengan demikian maka artinya: orang yang mencintai Allah dengan
ketaatan penyembahan serta pengabdian kepada-Nya. Kecuali itu juga mempunyai
makna sebagai penderita, artinya: orang-orang dicintai oleh Allah dengan
memperoleh kemuliaan dari-Nya”.
-
Syaikh
Yusuf bin Ismail al-Nabhani berkata “Maka arti kata wali ialah orang yang
secara terus-menerus taat batinnya kepada Allah tanpa diselingi perbuatan
dosa”.
-
Ibrahim
Athwah Audl berkata “Arti makna wali ialah orang yang terus-menerus menyertai
Allah sambil terus-menerus berbuat taat kepada-Nya dengan demikian Allah
selamanya melimpahkan kepadanya kemuliaan dan perlindungan. Demikian juga telah
dikatakan bahwa wali itu orang yang terus-menerus perbuatannya cocok dengan
syara Islam yang mulia. Siapa yang perbuatannya melanggar syara, maka ia
bukanlah wali meskipun ia bisa terbang di udara maupun berjalan di atas air.
Dalam hubungan ini maka siapa-siapa yang mengaku dirinya telah sampai di
tingkatan boleh tidak usah shalat lima waktu atau puasa Ramadhan, dan mengaku
dirinya dibolehkan berbuat dosa besar maupun kecil, maka ia adalah orang yang
sesat dan menyesatkan. Orang yang demikian termasuk kawan syaitan”.
-
Ragib
al-Ashfahani berkata “Dan demikian itu dipinjam penggunaannya untuk arti dekat,
baik dari segi tempat, hubungan, pertemanan, pertolongan, keyakinan, dan lain
sebagainnya”. (Sholeh So’an 2002:50-51 & Risalah, No. 11 Februari 2010:28).
Pendapat
lain menyatakan bahwa songo/sanga berasal dari kata tsana yang
dalam bahasa Arab berarti sama dengan mahmud, yang terpuji. Jadi
Walisongo berarti “wali-wali yang terpuji” (Helmiati, 2011:55). Adapun kata songo
adalah angka hitungan Jawa yang berarti sembilan. Namun begitu, meski
perkataan Walisongo sudah lazim disebut orang, tetapi kalau dihitung
satu persatu keseluruhan mereka yang digolongkan dalam julukan Walisongo
tersebut bukan berjumlah sembilan, tetapi berlebih atau berkurang.
Terhadap
sebutan songo atau jumlah wali yang tidak tepat itu memungkinkan
terjadinya interpretasi terhadap ucapan songo. Adapun berpendapat bahwa
kata songo merupakan perubahan atas kerancuan dalam pengucapan kata sana
yang dipungut dari bahasa Arab tsana (mulia) yang searti dengan mahmud
(terpuji), sehingga mengucapkan yang betul adalah walisana yang
berarti wali-wali terpuji.
Sementara
Abu Su’ud berpendapat bahwa kata wali berasal dari bahasa Prakreta (India) sanga,
yang berarti dewan (2003:125). Tajono berpendapat bahwa kata sana bukan
berasal dari kata Arab tsana, tetapi berasal dari kata Jawa Kuno, sana
yang berarti tempat, daerah, atau wilayah. Dengan interpretasi ini berarti wali
bagi suatu tempat, penguasa daerah, atau penguasa wilayah (Dadan Wildan,
2012:199, Rachmat Abdullah, 2016:69 & Sholeh So’an, 2002:51-52). Pendapat
Tajono ini sejalan dengan salahsatu definisi yang diberikan oleh Kamus Besar
Bahasa Indonesia (Depdiknas, 2005:1267). Kata wali sana yang berarti
penguasa wilayah, dipertegas oleh Taqiyuddin an-Nabhani dengan mengartikan kata
“wali” itu sebagai “Orang yang diangkat oleh Khalifah untuk menjadi pejabat
pemerintahan (hakim) di suatu daerah serta menjadi pemimpin di daerah” (Sholeh
So’an, 2002:52).
Senada
dengan Dadan Wildan dan Abu Su’ud, para sejarahwan seperti Tiar Anwar Bachtiar,
Budi Handrianto, Susiyanto, dan M. Isa Nashory berpendapat bahwa Walisongo
adalah sebuah majlis atau dewan. Nama sanga tidak selalu menunjukkan
jumlah bilangan “sembilan” (Sejarah Nasional Indonesia hal. 96).
Dalam
kapasitas tersebut mereka disebut pula dengan sunan, kependekan dari suhun,
susuhunan atau sinuhun, dengan disertai atau tidak disertai sebutan kanjeng
sebagai kependekan dari kata kang jumeneng, pangeran, atau sebutan
lain yang biasa diterapkan bagi para raja atau penguasa pemerintah daerah di
jawa. Yang berarti “menghormati”, disini bentuk pasifnya yang berarti
“dihormati”. Sebagian lagi berpendapat bahwa songo berasal dari kata sangha
dari istilah agama Budha yang berarti perkumpulan atau jamaah para Bhiksu Budha
(Dadan Wildan, 2012:199 & Ricklefs, 2008:18).
2. Deskripsi Walisongo
Para
wali itu adalah Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik), Sunan Ampel (Raden
Rahmat), Sunan Bonang (Makdum Ibrahim), Sunan Drajat (Raden Qasim), Sunan
Kalijaga (Raden Sahid), Sunan Giri (Raden Paku), Sunan Kudus (Ja’far Shadiq),
Sunan Muria (Umar Said), Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah). Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan Gresik sendiri tidak memasukkan Sunan Gresik sebagai
anggota Walisongo. Hal ini dapat dijelaskna bahwa pergantian struktur bisa saja
terjadi setiap ada wali yang meninggal. Sebagai contoh pasca wafatnya Sunan
Gresik, Raden Patah atau Sunan Kota kemudian masuk menjadi elit Walisongo.
(Helmiati, 2011:55, Tiar Anwar Bachtiar, dkk hal. 96-97 dan Sholeh So’an, 2002:57).
Mereka
tidak hidup pada saat yang persis bersamaan. Namun satu sama lain mempunyai
keterkaitan erat, bila tidak dalam ikatan darah, maka dalam hubungan
guru-murid. Maulana Malik Ibrahim yang tertua. Sunan Ampel adalah anak Maulana
Malik Ibrahim. Sunan Giri adalah keponakan Maulana Malik Ibrahim yang berarti
juga sepupu Sunan Ampel. Sunan Kalijaga merupakan sahabat sekaligus murid Sunan
Bonang. Sunan Muria anak Sunan Kalijaga. Sunan Kudus murid Sunan Kalijaga.
Sunan Gunung Jati adalah sahabat para Sunan lain, kecuali Maulana Malik Ibrahim
yang lebih dahulu meninggal (Helmiati, 2011:55 dan Abu Su’ud, 2003:125).
Dalam
buku Sejarah Kebudayaan Islam untuk Diniyah Awaliyah IV yang disusun oleh M.
Sumitro, S.PdI, dkk terbitan Departemen Agama RI tahun 2005 halaman 69
disebutkan bahwa selain Walisongo tersebut, dikenal juga wali-wali yang lain
seperti Syaikh Subair, Sunan Bayat, Syaikh Siti Jenar, dan Sunan Geseng.
(mungkin yang dimaksud M. Sumitro, S.PdI, dkk adalah Syaikh Syubakir, Sunan
Tembayat sebagaimana yang disebutkan oleh Abu Su’ud, 2003:125). Bahkan di
masyarakat Jawa ada yang sengaja membuatkan rengginang Segitiga ditunjukkan
sebagai penghormatan kepada Sunnan Geseng. (Wahyana Giri, 2010:38).
Begitu
pula dalam Babad Tanah Jawi, Babad Cerbon-Brandes pupuh ke-15; pangkur,
dan Kitab Wali Sepuh; Syaikh Siti Jenar dimasukkan ke dalam “barisan”
Walisongo. Walaupun begitu para sejarawan dan ulama belum sepakat akan
keberadaan San atau ‘Ali Anshar atau Raden Abdul Jalil bergelar Syaikh Siti
Jenar atau Syaikh Lemah Abang. Selain itu ada juga antara lain Syaikh Sabil
atau Usman Haji dari Malaka bergelar Sunan Ngudung, (di Ngudung, Jipan
Panolan), Raden Santri ‘Ali Bergelar Sunan Gresik (di Gresik), Raden Umar Said
bergelar Sunan Muria (di Muria, Jepara), Raden Sayid Muhsin bergelar Sunan
Wilis (di Cirebon), Raden Haji Usman bergelar Sunan Manyuran (di Mandika),
Raden Fatah bergelar Sunan Bintara (di Bintara, Demak), Raden Jakandar bergelar
Sunan Bangkalan (di Madura), Khalif Khusein (Husyan) bergelar Sunan Keroso, Ki
Gede Pandan Arang bergelar Sunan Geseng (di Lowanu, Purworejo), Sunan Giri
Perapen, dan Sunan Padhusan (Dadan Wildan, 2012:201-204).
Nama
Syaikh Siti Jenar dalam buku-buku tersebut dimasukkan kedalam kategori wali,
padahal kalau ditelisik lebih jauh ajaran yang dibawa oleh Syaikh Siti Jenar
sangat jauh dari ajaran agama Islam. Syaikh Siti Jenar berkeyakinan bahwa
setelah roh manusia terlepas atau keluar dari badan/raga, ia akan hidup sendiri
dengan langgeng yang adanya bukan sebagai hasil atau lewat bapak ibu atau yang
adanya karena kumpulan dari unsur angin, air, tanah, dan api.
Syaikh
Siti Jenar pernah berkata, “Syahadat, sholat, puasa, demikian juga dengan zakat
dan fitrah, itu semua bohong belaka, tidak boleh dipercaya. Islam tetap
merupakan perilaku sesat, membohongi seluruh manusia, agar kelak bisa masuk
surga, orang-orang bodoh diperdaya oleh ulama, dan nyatanya sama saja, tidak
mengetahui perbedaan Syaikh Siti Jenar”. Lebih jauh Syaikh Siti Jenar
menganggap bahwa Hyang Widi (Tuhan) itu serupa dengan dirinya, karena ia
merupakan jelmaan dari dzat Tuhan dan juga memiliki dua puluh sifat sebagaimana
sifat-sifat yang dimiliki Tuhan (Wihdatul Wujud atau Manunggaling
kawula lan Gusti: Tuhan menyatu dengan makhluknya).
Pada
perkembangannya perguruan yang didirikan oleh Syaikh Siti Jenar semakin dikenal
baik yang di desa-desa maupun di kota. Akhirnya berita tentang kemasyhuran
perguruan Syaikh Siti Jenar dengan ajarannya sampai juga ke Bintara. Setelah
mengadakan perundingan dengan para pembantu dan para wali, maka diutuslah
Syaikh Domba dan Pangeran Bayat ke Krendasawa untuk menemui Syaikh Siti Jenar
agar bersedia menghadap para wali, namun Syaikh Siti Jenar menolaknya.
Maka
Sunan Bonang diiringi oleh para Sunan dan pangeran yang lain serta para
muridnya berangkat menuju ke Krendasawa dengan membawa surat kuasa dari Sultan
Bintoro yang berisi mengajak Syaikh Siti Jenar untuk mengadu ilmu (ngaban
rahsa). Setelah terjadi tukar pikiran tentang ilmu rahasia, nampaknya
Syaikh Siti Jenar sudah tidak dapat merubah sikap dan ajarannya. Akhirnya
penguasa pada waktu itu mengambil sikap untuk memberantas termasuk menjatuhkan
hukuman mati kepada Syaikh Siti Jenar bersama dengan tujuh murid setianya.
setelah terlebih dahulu diadakan musyawarah antara para wali.
Diantara
ke tujuh muridnya terdapat Pangeran Penggung yang merupakan anak dari Sunan
Kalijaga. Sunan Kalijaga sendiri ikut dalam proses pengadilan atas Syaikh Siti
Jenar dan ketujuh muridnya. (Abdul Munir Malkhan hal. 26-57; Risalah Jum’ah No.
682/31 Maret 2017; dan Abu Su’ud, 2003:132-134).
Paling
tidak dalam dua sumber babad, yaitu Babad Tanah Jawi dan Babad
Walisana eksekusi mati yang dilakukan terhadap Syaikh Siti Jenar
sebagaimana yang di kutip oleh Tiar Anwar Bachtiar bahwa ada 5 penyimpangan
yang dilakukan oleh Syaikh Siti Jenar yaitu Pertama; Syaikh Siti Jenar
telah meninggalkan al-Qur’an, hadits, ijma’, dan qiyas. Kedua;
Syaikh Siti Jenar telah terkategori zindiq dan mulhid (panteis
dan ateis) karena mengaku bahwa ora ana Pangeran anging Angsun (tidak
ada Tuhan kecuali Aku). Ketiga; Syaikh Siti Jenar sering mentakwilkan
al-Qur’an tanpa kaidah yang benar sehingga banyak yang takwilnya yang ngawur. Keempat;
ajaran-ajaran Syaikh Siti Jenar sangat membahayakan karena sangat pesimistis
melihat dunia, juga mendukung tindakan anarki dan chaos. Kelima;
perilaku-perilaku muridnya pun sangat meresahkan masyarakat (Risalah Jum’ah No.
682 31 Maret 2017).
2.1.
Nama-Nama Walisongo
2.1.1.
Sunan Gresik
Sunan
Gresik adalah Maulana Malik Ibrahim. Nama lain yang sering dipakai oleh beliau
ialah “Maulana Maghribi atau Maulana Ibrahim”. Menurut Au Su’ud disebut
demikian karena kemungkinan dia berasal dari negeri Magribi (Maroko), yaitu
tempat matahari terbenam. Namun tidak ada bukti lain tentang kebenaran
kemungkinan tersebut. Masalah waktu kelahiran Maulana Malik Ibrahim tidak ada
kesepakan di kalangan para ahli sejarah. Akan tetapi ia diperkirakan lahir
sekitar pertengahan abad ke-14 (1350). Ulama dari negeri Arab bin Sayid Zainul
Aliem bin Sayid Zainul Abidin bin Sayidina Husain bin Ali.
Bahkan
pada waktu datangnya ke Indonesia, khususnya ke pulau jawa, tidak ada berita
secara pasti, namun setelah tiba di pulau Jawa beliau menetap di sebuah desa
Leran yang terletak di luar kota Gresik, dan di desa Leran inilah beliau
menjalankan dakwah Islam dimana rakyat setempat banyak tertarik dengan agama
baru ini, lalu memeluknya menjadi pengikut Islam. Dalam beberapa literatur,
kedatangan Maulana Malik Ibrahim ke tanah Jawa dicatat sebagai permulaan
masuknya Islam. Karena itu, ia dianggap sebagai orang yang mula-mula memasukkan
Islam ke Jawa dan sebagai pendiri pondok pesantren pertama di Indonesia,
sehingga disebut bapak pesantren Jawa.
Pada
saat itu, Maulana Malik Ibrahim menghadap raja Majapahit dan menceritakan
maksudnya mau berdakwah Islam sekalipun mengajak raja Majapahit untuk memeluk
Islam. Waktu meninggalkan istana Majapahit, maka oleh raja Majapahit diberi
sebidang tanah di Desa Gapura, Gresik, sebagai tempat mengembangkan Islam.
Tanah yang dihadiahkan raja Majapahit itu dikenal dengan sebutan “Tanah
Perdikan”, [yang mana] di atas tanah tersebut didirikan sebuah masjid untuk
tempat beribadah dan tempat mengajarkan Islam. Urut tradisi/babad Jawa, maka
Maulana Malik Ibrahim adalah seorang ulama dari tanah Arab, keturunan Zainal
Abidin, cicit Nabi Muhammad, demikian tulis Prof. Dr. Husein Djayadiningrat.
Menurut Prof. Dr. Hamka, bahwa “nampaknya Maulana Malik Ibrahim datang dari
Kasyan, Persia, bangsa Arab dari keturunan Rasulullah, yang datang ke Jawa
sebagai penyebar agama Islam”, dan menurut Minhajul Afkar diduga Maulana Malik
Ibrahim berasal dari Gujarat. Ia berdasarkan tulisannya pada:
1. Tulisan Tome’ Pires yaitu: At the time
in which pagan were living on the coast of Java, many persians, Arans and
gujjarad traders used to come these pleaces.
2. Tulisan J.P. Moquette yang menyetakan
bahwa batu nisan dari makam Maulana Malik Ibrahim berasal dari Cambay, Gujarat,
yang mirip sekali dengan batu nisan makan Umar bin Ahmad al-Kazarani yang
terdapat di Cambay, Gujarat.
Maulana
Malik Ibrahim tidak pernah menentang agama dan keyakinan penduduk asli dengan
tajam. Adat istiadat mereka pun tidak ditentang secara terbuka. Thomas Stamford
Raffles menyemukakan pandangan Maulana Malik Ibrahim mengenai ketuhanan.
Dikemukakan bahwa yang penting tentang Tuhan Allah adalah keberadaannya. Dalam
menyebarkan ajaran Islam, Maulana Malik Ibrahim dihadapkan pada keadaan
masyarakat Jawa yang pada umunya adalah pemeluk agama Hindu dan Budha dan
berada dalam kekuasaan kerajaan Majapahit. Masyarakat pada waktu itu menganut
struktur sosial yang berkasta, yaitu kasta Sudra, kasta Waisya, kasta Ksatria,
dan Kasta Brahmana. Masyarakat yang demikianlah yang menjadi sasaran dakwah
para saudagar muslim dan Maulana Malik Ibrahim, karena menurut mereka bahwa
umat manusia adalah sama kedudukan dan derajatnya di hadapan Allah Swt., yang
membedakan antara yang satu dengan yang lainnya hanyalah ketakwaan seseorang.
Sebagaimana Firman Allah dan Sabda Rasul-Nya yang berbunyi:
“Hai
manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang
perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu
saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu
disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah
Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. Q.S. al-Hujurat
: 13.
“Tidak
ada perbedaan (yang membedakan) antara orang Arab atas orang selainnya kecuali
ketakwaannya”.
Meskipun catatan dalam sejarah belum
diketahui kelahiran dan tibanya ke Indonesia, yang jelas Maulana Malik Ibrahim
(Sunan Gresik) berjasa sekali dalam penyebaran agama Islam di Jawa, khususnya
di Gresik. Beliau menyebarkan Islam selama 20 tahun dan wafat di Gresik pada
tanggal 12 Rabiul Awal 822 H/8 April 1419 M dan dimakamkan di Perkuburan gapura
Wetan, Gresik. (Dadan Wildan, 2012:201, Abu Su’ud, 2003:12 dan Sholeh So’an,
2002:52-54).
2.1.2.
Sunan Ampel
Sunan
Ampel nama aslinya pada waktu muda adalah “Ahmad Rahmatullah” atau yang biasa
disebut juga Raden Rahmat, putera Maulana Malik Ibrahim dari isterinya yang
bernama “Dewi Candra-Wulan”, putri kedua Baginda Kiyan. Dalam literatur lain
telah dijelaskan pula bahwa isteri beliau bernama “Dewi Candrawulan, puteri
pertama Ratu Campa yang telah menganut agama Islam”. Masalah kelahiran beliau
samapi kini belum tercatat oleh sejarah. Dadan Wildan menyebutkan bahwa Sunan
Ampel putra dari Ibrahim Asmorokandi seorang ulama terkenal dari Arab yang
menyebarkan agama Islam di Campa (kebanyakan ahli sejarah menganggap bahwa
Champa ada di Indo China dekat Kamboja) yang menikah dengan puteri Campa, Dewi
Candrawulan, saudari puteri Darawati, permaisuri angka Wijaya, Raja Majapahit.
Raffles beranggapan bahwa Champa ada di Aceh, tepatnya di daerah bernama
Jeumpa.
Sunan
Ampel adalah penerus cita-cita serta perjuangan ayahnya, Maulana Malik Ibrahim,
dan terkenal sebagai perencana pertama kerajaan Islam di Jawa. Ia mendapat
didikan agama Islam dari ayahnya, Maulana Malik Ibrahim. Akan tetapi dalam
referensi lain dikatakan bahwa ia telah mendapatkan didikan ilmu agama dari
ayahnya bernama Ibrahim Asmarakandi atau orang Jawa menyebutnya Ibrahim Asmoro.
Kedua nama menurut penulis kurang begitu jelas, apakah itu nama yang sama untuk
satu orang yang disebut Sunan Gresik, ataukah nama dua orang yang berbeda
akibat dari ketidakjelasan sumber sejarah yang ada sampai saat ini. Tetapi yang
jelas, bahwa Sunan Ampel semasa kecilnya mendapat didikan ilmu agama Islam dari
ayahnya tercinta.
Menginjak
usia dewasa dan “dianggap cukup ilmunya”, ia dikirim ayahnya ke Jawa untuk
menyiarkan Islam dan mengunjungi bibinya, yaitu putri Darawati, yaitu isteri
Raja Majapahit Angkawijaya. Raden Rahmat waktu tiba di Jawa (Kerajaan
Majapahit) baru berumur 20 tahun. Setelah beberapa lama, ia mendengar berita
bahwa negeri Champa diserbu oleh Raja Koci sehingga ia berhasrat pulang. Hanya
saja Prabu Brawijaya menasehatinya dan meminta agar kemenakan permaisurinya
menetap saja di tanah Jawa.
Sunan
Ampel menikah dengan Nyai Ageng Manila yang berasal dari Tuban, puteri Ki Gede
Manila seorang Adipati yang bergelar Tumenggung Walatikta. Dari pernikahannya
Sunan Ampel memperoleh empat orang putra, yaitu Nyai Ageng Maloka, Maulana
Makdum Ibrahim (Sunan Bonang), Syarifuddin (Sunan Drajat), dan seorang putri
yang kemudian menjadi istri Sunan Kalijaga.
Sunan
Ampel memulai aktivitasnya dengan mendirikan pondok pesantren di Ampel Denta,
dekat Surabaya, sehingga ia dikenal sebagai pembina pondok pesantren pertama di
Jawa Timur. Di pesantren inilah Sunan Ampel mendidik para pemuda Islam untuk
menjadi tenaga da’i yang akan disebar ke seluruh Jawa. Kepada santrinya Sunan
Ampel memberikan pengajaran sederhana yang menekankan pada penanaman akidah dan
ibadah. Dia-lah yang mengenalkan istilah “Mo Limo” (moh main, moh
ngombe, moh maling, moh madat, moh madon). Yakni seruan untuk “tidak
berjudi, tidak minum minuman keras, tidak mencuri, tidak menggunakan narkotika,
dan tidak berzina)
Di
antara pemuda yang dididik itu tercatat antara lain Raden Paku, yang kemudian
dikenal dengan nama Sunan Giri dan menyebarkan Islam di Giri, Raden Patah yang
kemudian menjadi sultan pertama kesultanan Islam di Bintoro, Demak, Raden
Makdum Ibrahim (putra Sunan Ampel sendiri) yang kemudian dikenal Sunan Bonang, Syarifuddin
yang kemudian dikenal dengan Sunan Drajat, Maulana Ishak yang pernah diutus ke
daerah Blambangan untuk mengislamkan rakyat di sana, dan banyak lagi mubaligh
yang mempunyai andil besar dalam Islamisasi Pulau Jawa. Disamping itu Raden
Rahmat juga mengirim Syaikh Khalifah Husen ke Madura.
Sunan
Ampel berselisih paham dengan Sunan Kudus mengenai gagasan Sunan Kalijaga untuk
menerima ajaran pra-Islam, seperti selamatan atau sesaji, dengan sentuhan
Islam. Sementara Sunan Kudus menerima gagasan Sunan Kalijaga, Sunan Ampel
menolaknya, karena khawatir melakukan bid’ah, yang menyesatkan umat.
Raden
Rahmat menyebarakan Islam di sepanjang Jawa dengan damai dan akhirnya Islam
berkembang di Pulau Jawa atas kerjasama antara penguasa lokal dengan ulama.
Kerajasama itu akhirnya melahirkan Kesultanan Demak sebagai kerajaan Islam
pertama di Jawa dengan Raden Patah (putera Prabu Brawijaya V, raja Majapahit)
sebagai sultan pertamanya yang tak lain adalah murid dari Raden Rahmat sendiri
yang bergelar Senopati Jimbun Ngabdurrahman. Sunan Ampel dimakamkan di Tuban
Jawa Timur. (Sholeh So’an, 2002:54-55; Dadan Wildan, 2012:201; Badri Yatim,
2004:211; Abu Su’ud, 2003:126; Helmiati, 2011:57; dan Jaih Mubarok,
2004:226-227).
Sebagian
masyarakat Jawa suka membuat Sega Abang (nasi dari beras merah), panggang ikan
Badar dan dibumbui dengan garam. Sajen Mumule untuk para leluhur yaitu Sunan
Ampel. (Wahyana, 2010:48).
2.1.3. Sunan Bonang
Maulana
Makdum Ibrahim adalah Sunan Bonang pada masa remajanya. Sebutan Makdum
mengingatkan pada sejarah Melayu yang para rajanya dikenal dengan gelaran yang
sama. Gelaran itu bermakna penolong yang harus dihormati.
Ia
adalah anak dari Sunan Ampel dari isterinya puteri Tuban yang bernama Nyai
Ageng Manila binti Arya Teja. Dalam literatur lain diterangkan bahwa Sunan
Bonang adalah Raden Rahmat dari perkawinannya dengan Dewi Candrawati dan
merupakan saudara sepupu Sunan Kalijaga. Dari sepasang seorang laki-laki dan
seorang perempuan itulah Sunan Bonang mempunyai dua saudara, yaitu “Nyi Gede
Maloka dan Nyi Gedeng Pancuran”, dan juga seorang lagi bernama Syarifuddin
Hasyim (Sunan Drajat) dari perkawinannya dengan wanita lain. Sunan Bonang
dilahirkan di Ampel Denta, Surabaya, pada tahun 1465 Masehi dan meninggal dunia
di Tuban pada tahun 1525 Masehi (1001 H). Sunan Bonan mendapat gelar
Nyokrokusumo.
Sebagaimana
telah dijelaskan sebelumnya bahwa Sunan Bonang adalah murid dari ayahnya
sendiri. Setelah mencari ilmu agama dari sang ayah, ia juga sempt menimba ilmu
agama dari Maulana Ishak di Pasai, Aceh, dan akhirnya kembali ke Tuban Jawa
Timur.
Sunan
Bonang dan para wali lainnya dalam menyebarkan agama Islam selalu menyesuaikan
diri dengan corak kebudayaan masyarakat Jawa yang sangat menggemari wayang
serta musik gamelan. Menurut penuturan K.H. Abdul Ghafur yang masih mempunyai
hubungan keluarga dengan Sunan Drajat, bahwa sebelum kedatangan para wali,
Tuban dan sekitarnya adalah pusat kesenian wayang, ketoprak, gending, dan
sebagainya yang senantiasa diwarnai dengan pesta mabuk-mabukkan, perjudian,
perzinahan, dan seterusnya.
Mengetahui
kondisi yang sedemikian rupa, Sunan Bonang yang pusat wilayah dakwahnya dekat
sekali dengan saudaranya, Sunan Drajat, berusaha menanamkan rasa keimanan pada
jiwa masyarakat dengan menyisipkan kalimat syahadatain pada setiap bait
syair lagu gamelan yang dianggap penuh dengan kemusyrikan dan berbau tahayul.
Gamelan yang mengiringi syair dikenal dengan istilah sekaten, yang
berasal dari bahasa syahadatain. Disamping mengganti syair gamelan,
Sunan Bonang juga menciptakan lagu yang dikenal dengan tembang Durma (istilah
yang sampai saat ini hampir sudah merakyat di kalangan masyarakat Jawa Timur,
khususnya Jawa Timur bagian barat adalah gending), sejenis macapat yang
melukiskan suasana tegang, bengis, dan penuh amarah. Sunan Bonag juga berusaha
mengganti nama-nama hari naas (sial) menurut kepercayaan Hindu, dan nama-nama
dewa Hindu digantikan dengan nama-nama malaikat serta nabi-nabi, dengan maksud
untuk lebih memperkenalkan nama-nama Islam di kalangan umat
Sunan
Bonang disamping dikenal sebagai seorang ulama yang menciptakan gending, dia
juga sangat dikelanal sebagai penerbit primbon, yaitu catatan pendidikan yang
telah disampaikan kepada muridnya, Raden Patah, putra raja Majapahit Prabu
Brawijaya V. Primbon tersebut dinamakan “Suluk Sunan Bonang atau Primbon Sunan
Bonang”.
Sunan
Bonang adalah wali sufi yang dikenal sangat produktif dalam dunia penulisan.
Diantara suluk-suluknya ialah, Suluk Khalifah, Suluk Kaderesan, Suluk Regol,
Suluk Bentur, Suluk Wujil, Suluk Wasiyat, Gita Suluk Latri, dan lain-lain.
Dia juga menulis risalah tasawuf dalam bentuk dialog antara seorang guru sufi
dan muridnya. Salah satu versi dri risalah tasawufnya itu telah
ditransliterasikan dan diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Drewes dengan
judul The Admonitions of She Bari (Pitutur Syaikh Bari). Dari sini terlihat
betapa para wali berusaha untuk melakukan pribumisasi terhadap ajaran agama
Islam.
Kembali
kepada pembahasan Sunan Bonang, beliaulah satu-satunya wali dari sembilan wali
yang sampai sekarang diketahui ajaran dan keasliannya dapat dipegang. Bahkan
ajarannya yang termaktub dalam Primbon Sunan Bonang masih tersimpan di
Universitas Leiden, Negeri Belanda. Ajaran Sunan Bonang ini mengambarkan
bagaimana corak ajaran Islam dari Walisongo secara umum yang tersebar di pulau
Jawa. Alasan mengapa “ajaran Sunan Bonag mewakili semua ajaran Walisongo”,
ialah:
1). Sunan Bonang adalah putera dari Sunan Ampel, yang
sekaligus menjadi murid dari Sunan Ampel.
2). Sunan Bonag diberi gelar Prabu Hanyakrawati yang
dijuluki “selubung ngelmu lan agama” adalah merupakan “mufti” dalam soal agama
Islam.
3). Sunan Bonang seperguruan dengan Sunan Gunung Jati
dan Sunan Giri, yaitu sama-sama berguru kepada Maulana Ishak pada saat menetap
di negeri Pasai, Aceh untuk memperdalam ilmu agama.
4). Sunan Bonang adalah juga guru dari Sunang Kalijaga
pada waktu pertama kali menuntut ilmu agama Islam.
Selain Sunan Ampel, putranya, Sunan
Bonang juga turut menjadi penyokong penyebaran Islam di Kesultanan Demak. Ia
terlibat pembangunan masjid Agung Demak, bersama dengan wali-wali lainnya.
Menurut cerita tradisional yang terekam dalam sejumlah naskah, masjid Demak
menjadi pusat kegiatan keagamaan, pendidikan, sosial kemasyarakatan. Disinilah
para wali sering berjumpa dan melakukan musyawarah, termasuk Sunan Bonang.
Sunan Bonang meninggal tahun 1525 dan dimakamkan di Tuban. (Sholeh So’an,
2002:54-55; Dadan Wildan, 2012:201; Abu Su’ud, 2003:127-128; dan Helmiati,
2011:57-59).
Sebagian masyarakat Jawa suka
membuat nasi gurih, bubur manggul yang ditaburi katul. Sajen Mumule untuk para
leluhur yaitu Sunan Bonang. (Wahyana, 2010:48).
2.1.4. Sunan Giri
Sunan Giri dilahirkan di Blambangan
pada pertengahan abad ke-15 serta wafat di Bukit Giri, Gresik, pada awal abad
ke-16. Sunan Giri nama aslinya adalah Raden Paku, nama pemberian Sunan Ampel
karena permintaan ayahnya, Maulana Ishak. Beliau mempunyai beberapa sebutan
yang antara lain: “Joko Samudro, nama yang diberikan ibunya, Nyai Gede
Pinatih”, “Prabu Satmata atau Sunan Sasmata pemberian Sunan Kalijaga, dan
Sultan Abdul Faqih karena beliau sangat yakin dan mendalami ilmu fiqih”.
Maulana
Ishak diberi tugas oleh Sunan Ampel untuk menyebarkan ajaran Islam di
Blambangan. Beliau memperdalam ilmu agam Islam di Pasai dan tidak kembali lagi
ke Jawa, sehingga Raden Paku diangkat sebagai anak oleh seorang wanita bernama
Nyai Gede Maloka, yang dalam Babad Tanah Jawa disebut Nyai Ageng atau Nyai
Ageng Tandes.
Banyak
perdebatan mengenai ibu kandung dan ibu asuh Sunan Giri. Muhammad Syamsu As
sebagaimana di kutip oleh Sholeh So’an menyebutkan bahwa ibu kandung Sunan Giri
adalah Dewi Sekardadu puteri Prabu Menak Sembayu. Karena telah mengetahui akan
kesaktian Maulana Ishak (menantunya sendiri isteri dari Dewi Serdadu), sang
Prabu menyuruh orang untuk membunuh Maulana Ishak, dan akhirnya beliau pergi
dengan meninggalkan Dewi Serdadu untuk merawat anaknya jika sudah lahir.
Dengan
penuh kekhawatiran, maka dihanyutkanlah bayi itu (setelah kelahirannya) ke laut
dengan dimasukkan ke dalam peti. Dengan ijin Allah, si bayi tersebut dapat selamat
karena ditemukan oleh Nyai Gede Pinatih yang sedang berlabuh. Artinya, bahwa
nama ibu kandung Sunan Giri adalah Dewi Serdadu dan Nyai Pinatih adalah ibu
asuhnya.
Sedangkan
menurut Widji Saksono, menyebutkan bahwa isteri Maulana Ishak adalah Retna Sabodi
Rara yang melahirkan Sunan Giri tanpa ditunggui suaminya karena telah diusir
sang Prabu yang merasa tersinggung oleh ucapan Maulana Ishaq dalam mengislamkan
sang Prabu. Sang ibu meninggal dunia setelah melahirkan Sunan Giri. Pada saat
melahirkannya, timbullah malapetaka di kerajaan Blambangan yang dengan demikian
sang Prabu beranggapan bahwa malapetaka itu terjadi akibat kelahiran sang bayi,
dan akhirnya sang bayi dibuanglah ke laut. Akan tetapi dengan ijin Allah si
bayi ditemukan oleh Nyai Gede Pinatih yang sedang berlayar yang akhirnya
diasuhnya sampai besar. Artinya, Nyai Gede Pinatih adalah ibu asuh, bukan ibu
kandung Sunan Giri. Akan tetapi nama ibu berbeda dengan yang dituturkan
Muhammad Syamsu As; sementara dalam Ensiklopedi Islam jilid V dijelaskan bahwa
Nyai Pinatih adalah ibu kandung dari Sunan Giri, sedang ibu asuh (angkat)-nya
adalah Nyai Gede Maloka. Menurut Abu Su’ud nama lain dari Nyai Maloka adalah
Nyai Ageng Tandes.
Ricklefs
berpendapat dengan mengutip Sejarah Banten seorang suci berkebangsaan
asing yang bernama Molana Usalam datang ke Balambangan di Ujung Timur Jawa,
suatu daerah yang belum menganut agama Islam sampai akhir abad XVIII. Penguasa
Balambangan mempunyai seorang puteri yang menderita penyakit yang tidak dapat
disembuhkan, tetapi puteri itu ternyata sembuh ketika Molana Uslam memberikan
buah pinang untuk dikunyah. Puteri itu kemudian dinikahkan dengan Molana
Usalam. Namun, ketika Molana Usalam meninta penguasa Balambangan untuk memeluk
Islam, penguasa itu pun menolaknya. Oleh karena itu, Molana Usalam pergi
meninggalkan Balambangan dan isterinya yang sedang hamil. Ketika puteri itu
melahirkan bayi laki-laki, bayi itu dimasukkan ke dalam sebuah peti dan dibuang
ke laut, seperti cerita Musa. Peti itu akhirnya terdampar di Gresik, tempat
bayi itu kemudian tumbuh menjadi seorang muslim dan belakangan menjadi sunan.
Beliau
adalah anak didik Sunan Ampel. Di samping beliau belajar agama dari Sunan
Ampel, Sunan Giri juga sempat “belajar di Pasai bersama-sama Sunan Bonang, yang
pada saat itu di sana berkembang ilmu ketuhanan, keimanan, dan tasawuf”.
Menurut berita yang menjalar, bahwa Sunan Giri dalam menimba ilmu di Pasai
sudah sampai pada tingkat ilmu laduni, sehingga gurunya memberi gelar
kepadanya ‘Ain al-Yaqin.
Sunan
Giri memulai aktivitas dakwahnya di daerah Giri dan sekitarnya dengan
mendirikan pesantren. Santrinya banyak berasal dari golongan masyrakat ekonomi
lemah yang berasal dari Surabaya, Madura, Kangean, Bawean, Lokbok, Makasar,
Ternate, dan Tidore, bahkan sampai ke Haruku di kepulauan Maluku maupun Nusa
Tenggara. Lewat merekalah Sunan Giri menyebarkan agama Islam di luar pulau
Jawa, asal muridnya datang. Dengan memiliki murid yang tidak hanya berasal dari
Jawa, berarti dakwah para wali tidak terbatas pada wilayah Jawa, tempat mereka
memusatkan dakwahnya.
Sunan Giri juga pencipta karya seni
yang luar biasa. Permainan anak seperti Jelungan, Jamuran, Lir-ilir, dan
Cublak Suweng, Gendi Gerit, Jor, Gula Ganti dan lain-lain disebut sebagai
kreasi beliau. Demikian pula Gending Asmarandana dan Pucung Lagi
bernuansa Jawa namun syarat dengan ajaran Islam. Permainan-permainan itu
dimaksudkan sebagai simbolisasi pemahaman akan nilai-nilai ketuhanan dan
keislaman.
Upaya
simbolisasi itu juga dituangkan ke dalam tembang-tembang dolanan seperti Padhang-padhang
bulan maupun lir-lir.sebetulnya masih terjadi perbedaan paham
tentang siapa sebetulnya pencipta karya-karya monumental itu, Sunan Giri
ataukah Sunan Kalijaga. Yang beranggapan bahwa Sunan Kalijaga pencipta
karya-karya itu, karena Sunan Kalijaga merupakan Sunan yang berasal dari
pribumi Jawa. Sedangkan yang beranggapan sebaliknya, karena Sunan Giri dianggap
sebagai pendidik yang “ajur-ajer” dengan kebudayaan setempat.
Ketika
wafat jenazah Sunan Giri dimakamkan di atas sebuah bukit di Gresik. (Sholeh
So’an, 2002:57&78; Dadan Wildan, 2012:201; Ricklefs, 2008:19; Abu
Su’ud, 2003:128-129 dan Helmiati,
2011:59-60).
Sebagian
masyarakat Jawa suka membuat nasi ketan, daun kapas untuk lembaran dan daun
terong Ngor. Sajen Mumule untuk para leluhur yaitu Sunan Giri. (Wahyana,
2010:50).
2.1.5. Sunan Drajat
Nama
kecil Sunan Drajat adalah Raden Qosim Syarifuddin Hasyim. Ia dilahirkan di
Ampel Denta, Surabaya sekitar tahun 1470 Masehi dan wafat di Sedayu (sekarang
Desa Drajat Kecamatan Paciran Kabupaten Lamongan).
Menurut
salahsatu sumber, bahwa Sunan Drajat adalah anak dari Sunan Ampel dari
perkawinannya dengan seorang wanita lain, bukan dengan Dyah Siti Manila binti
Arya Teja. Artinya Sunan Drajat adalah saudara Sunan Bonang lain ibu, bukan
saudara sekandung.
Sunan
Drajat termasuk kelompok wali yang mendirikan Kesultanan Demak, dan yang
selanjutnya yang menjadi kelompok penasehat Sultan. Sunan Drajat adalah seorang
Waliyullah yang bersifat sosial. Di dalam berdakwah ia tidak segan-segan
memperhatikan dan membantu rakyat yang sengsara, anak yatim-piatu, membantu
orang sakit, dan membantu orang yang fakir miskin. Dengan demikian, Sunan
Drajat adalah seorang wali yang senantiasa mementingkan kesejahteraan rakyat
umum dalam rangka mencapai tujuan yang diharapkan, yaitu terjalinnya ukhuwah
Islamiyyah yang sangat kuat dalam
kebaikan dan mencegah yang mungkar demi tegaknya agama Allah. Selain
itu, Sunan Drajat menciptakan gending pangkur. Yang dilakukan itu
sebetulnya merupakan pengamalan ajaran agama yang sebenar-benarnya.
Menurut
penuturan masyarakat Drajat, bahwa sekarang di desa tersebut telah berdiri
beberapa pesantren yang terletak tidak jauh dari makam Sunan Drajat, dipimpin
oleh seorang Kyai yang cukup terkenal di wilayahnya. K.H. Abdul Ghafur. Beliau
masih mempunyai hubungan keluarga dengan Sunan Drajat yang kini mewarisi
keahlian mengobati segala macam penyakit, dapat menyadarkan anak nakal, dan
bahkan dapat membantu mengabulkan permintaan seseorang yang layak dibantu.
(Sholeh So’an, 2002:58; Abu Su’ud, 2003:129 dan Dadan Wildan, 2012:201).
2.1.6. Sunan Kalijaga
Nama
asli Sunan Kalijaga adalah Raden Mas Syahid atau Joko Said, dan terkadang
disebut juga Syaikh Malaya (Melaya). Beliau dilahirkan pada akhir abad ke-14
dan wafat di Kadilangu, Demak, pada pertengahan abad ke-15 Masehi. Sunan
Kalijaga adalah satu-satunya wali yang berasal dari orang Jawa.
Menurut
sejarahnya, beliau adalah anak Raden Sahur Tumenggung Walatikta Melayakusuma,
Adipati Tuban yang berasal dari seberang, keturunan seorang ulama negeri Atas
Angin yang setelah ke Jawa diangkat menjadi Adipati Tuban oleh Sri Prabu
Brawijaya, sehingga ia berganti nama menjadi Tumenggung Walatikta. Ibunya
bernama Dewi Nawang Rum.
Semasa
mudanya, Sunan Kalijaga adalah seorang brandal terkenal di daerah Tuban yang
sering dijuluki dengan Lokajaya. Setelah kalah berjudi, Said menjadi perampok
jalanan di pesisir utara. Pada suatu ketika, ia membegal Sunan Bonang untuk
merampas barang bawaannya. Menurut cerita, Sunan Bonang menghadapi keadaan yang
demikian itu tidak sedikitpun menampakkan kemarahan, tetapi justru senyum
gembira sambil menasehatinya dengan penuh lemah lembut. Meskipun Sunan Bonang
sudah menampakkan sikap yang lemah lembut kepada Lokajaya, ia tetap saja tidak
peduli dengan tutur kata Sunan Bonang yang akhirnya dengan ijin Allah beliau
mengubah buah laren menjadi kemilau-kemilau speperti emas. Peristiwa itu
menjadikan Lokajaya sadar dan bertobat, sehingga akhirnya Sunan Bonang
mengangkatnya menjadi murid.
Dari
perkawinan dengan Dewi Saroh, anak perempuan Maulana Ishak, Sunan Kalijaga
memperoleh tiga orang putra, masing-masing adalah Raden said (Sunan Muria),
Dewi Rukayah, dan Dewi Sofiah.
Kembali
kepada pembahasan Sunan Kalijaga, beliau mempunyai kehalian yang mirip dengan
gurunya, yaitu ahli dalam seni suara. Beliau berjasa menciptakan wayang dan
gamelan yang dijadikan sebagi saran berdakwah. Tidak heran jika sebelumnya
sempat terjadi perdebatan antara Sunan Ampel dengan Sunan Kalijaga dalam
menetapkan metode dakwah. Berkat usaha beliau dan gurunya, Jawa Timur bagian
Barat (Tuban) dan Jawa Tengah bagian Timur menjadi pusat kesenian yang sampai
sekarang masih tetap dikenal masyarakat Jawa. Artinya, kesenian yang ada pada
masa Hindu-Budha oleh kedua wali tersebut penuh diwarnai dengan nilai-nilai
keislaman sehingga kandungan kesenian menjadi berubah arah.
Dalam
menjalankan tugasnya, Sunan Kalijaga sering diikuti oleh para bangsawan dan
cendikiawan. Mereka sangat tertarik pada penampilan Sunan Kalijaga yang
persuasif dan akomodatif, serta tidak melenyapkan praktek keyakinan penduduk
sebelumnya. Adat setempat kebanyakan ditampung dan diberi sentuhan Islam.
Disamping itu, Sunan Kalijaga dikenal sebagai tokoh yang sangat toleran,
kritis, dan amat memperhatikan masa depan.
Beliau
juga dikenal sebagai pujangga. Kualitas pujangganya dapat kita saksikan dalam
kreativitas sastra dan bidang seni lainnya. Wayang kulit dan berbagai kreasi
pokok cerita wayang telah dihasilkan sepanjang hidupnya, termasuk kedalamnya
karya tembang dolanan dan bentuk permainan atau dolanan kanak-kanak, yang telah
menjadi kekayaan budaya Jawa. Sunan Kalijaga menciptakan baju takwa, tembang dangdanggula,
seni ukir motif dedaunan, bedug, gong sekaten, wayang kulit, dan lagu ilir-ilir.
Dalam
sejarah pendirian masjid Demak, yang konon kabarnya didirikan oleh para wali,
beliau adalah sunan yang paling akhir menyumbanh tiang penyangga masjid yang
dikumpulkan dari batang-batang kayu kecil dan dengan ijin Allah dirubah menjadi
sebuah tiang besar, sehingga berdirilah masjid Demak. Tiang yang diperbantukan
oleh Sunan Kalijaga dalam pendirian masjid itu dalam istilah Jawa dikenal
dengan “Soko Tatal”.
Menurut
kepercayaan yang berkembang pada masyarakat peziarah masjid Demak, bahwa tiang
yang dibuat oleh Sunan Kalijaga mempunyai kesaktian yang sangat hebat. Tiang masjid
itu dapat menyembuhkan orang sakit dan lain sebagainnya dengan cara megupasnya
sedikit untuk dimasukkan ke dalam air, lalu diminumnya. Hanya Allah Yang Maha
Tahu akan kebenaran semua itu.
Di
samping beliau berjasa menyumbangkan tiang untuk pendirian masjid dan diangkat
menjadi penasehat Kesultanan Demak Bintoro, beliau adalah wali paling muda dari
kesembilan wali yang ada. Ia sangat cerdik dan pandai, bahkan terkenal sangat
arif dan bijaksana dalam menghadapi berbagai persoalan, sehingga tidak heran jika
dia menjadi pertimbangan akhir para wali dalam memutuskan suatu masalah,
seperti menghakimi Syaikh Siti Jenar dan muridnya, Sunan Panggung, yang
dimiliki dan menyebarkan ajaran tasawuf atau ajaran penyatuan diri dengan
Tuhan.
Sunan
Kalijaga memperoleh umur panjang, sehingga mengalami tiga masa pemerintahan
yaitu masa Majapahit, Masa Demak, dan Masa Pajang. Setelah wafat jenazahnya
dimakamkan di desa Kadilangu, Demak. (Sholeh So’an, 2002: 58-60; Abu Su’ud,
2003:129-130; Dadan Wildan, 2012:201, dan Ricklefs, 2008:18).
Sebagian
masyarakat Jawa suka membuat nasi kuning dengan daun katu, katul, senting,
ranti, pace sambal plelek dan dilengkapi dengan dendeng baker serta gereh (ikan
asin) ikan balur baker. Sajen Mumule untuk para leluhur yaitu Sunan Kalijaga. (Wahyana,
2010:48).
2.1.7. Sunan Kudus
Nama
asli dari Sunan Kudus adalah Ja’far Shadiq bi Raden Usman Haji. Semasa kecilnya
ia sering dipanggil dengan Raden Undung. Terkadang juga dipanggil dengan
sebutan Raden Amir Haji. Ia dilahirkan pada abad ke-15 dan wafat di Kudus pada
tahun 1550.
Menurut
silsilahnya, Sunan Kudus masih mempunyai hubungan dengan Nabi Muhammad Saw.
Silsilah lengkapnya: Ja’far Shadiq bi Raden Usman Haji (bergelar Sunan Ngudung
dari Jipangpanolan, yang terletak di sebelah utara kota Blora) bin Raja Pendeta bin Ibrahim as-Samarkandi
bin Maulana Muhammad Jumadalkubra bin Zaini al-Husaein bin Ali r.a. Sunan Kudus
menyiarkan agama Islam di daerah Kudus dan sekitarnya, dan dia memiliki
keahlian khusus dalam bidang ilmu agama, terutama dalam ilmu fikih, ushul
fikih, hadits, tafsir, serta logika. Karena itulah diantara Walisongo hanya ia
yang mendapat julukan sebagai wali al-ilmi (orang yang luas ilmunya),
dan karena keluasan ilmunya ia didatangi oleh banyak penuntut ilmu dari
berbagai daerah di Nusantara.
Disamping
menjadi juru dakwah, Sunan Kudus juga menjadi panglima perang Kesultanan Demak
Bintoro yang tangguh, dan dipercaya untuk mengendalikan pemerintahan di daerah
Kudus, sehingga ia menjadi pemimpin pemerintahan sekaligus pemimpin agama di
daerah tersebut.
Ada
cerita yang mengatakan bahwa Sunan Kudus pernah belajar di Baitul Makdis,
Palestina, dan pernah berjasa memberantas penyakit yang menelan banyak korban
di Palestina. Atas jasanya itu, oleh pemerintah Palestina ia diberi ijazah
waliyah (daerah kekuasaan)di Palestina, namun Sunan Kudus mengharapkan
hadiah tersebut dipindahkan ke pulau Jawa dan oleh amir (penguasa setempat)
permintaan itu dikabulkan. Sekembalinya ke Jawa, ia mendirikan masjid di Loran
tahun 1549; masjid itu diberi nama Masjid al-Aqsa atau al-Manar (Masjid Menara
Kudus) dan daerah sekitarnya diganti namanya dengan Kudus, diambil dari nama
sebuah kota di palestina, al-Quds. Sunan Kudus menciptakan gending Maskumambang
dan Mijil. (Sholeh So’an, 2002:60; Abu Su’ud, 2003:130 dan Dadan Wildan,
2012:201).
Sebagian masyarakat Jawa suka
membuat nasi Bayu, pecel ikan sungai, dan dilambari denga daun pace. Sajen
Mumule untuk para leluhur yaitu Sunan Kudus. (Wahyana, 2010:48).
2.1.8. Sunan Muria
Sunan
Muria adalah anak Sunan Kalijaga. Semasa kecilnya bernama Raden Prawoto, dan
nama aslinya adalah Raden Umar Said bin Raden Syahid atau Raden Said. Beliau
dilahirkan pada abad ke-15 dan wafat di Gunung Muria, (18 km di sebelah utara
desa Kudus, Jepara Jawa Tengah sekarang) pada abad ke-16. Dalam perkawinannya
dengan Dewi Sujinah, puteri Sunan Ngudung, Sunan Muria memperoleh seorang putra
yang bernama Pangeran Santri, yang juga dijuluki sebagai Sunan Ngadilangu.
Berbicara
tentang Sunan Muria pada dasarnya tidak dapat lepas dari eksistensi aliran
tasawuf di Indonesia, karena beliau adalah seorang sufi (ahli tasawuf), yang
dalam menyebarkan ajaran Islam memilih desa-desa terpencil sebagai tempat
sasaran dakwahnya.
Jika
menengok sebentar tentang kehidupan desa terpencil, masyarakat tergolong
masyarakat yang sangat seerhana, untuk dikatakan termasuk masyarakat yang
sangat miskin. Dengan demikian tempat terpencil, yang mana merupakan tempat
sentral kepercayan non-Islami, menunjukkan bahwa beliau adalah orang yang
sangat sederhana. Kesederhanaan hidup tercermin hampir pada setiap diri sufi
yang seluruh waktunya lebih banyak diluangkan untuk berdzikir kepada Allah
dalam rangka mendekatkan diri kepada-Nya.
Sasaran
dakwah Sunan Muria pada umumnya kaum pedagang, para nelayan, petani tambak, dan
masyarakat biasa. Dalam rangka berdakwah melalui budaya, ia juga menciptakan
tembang dakwah Sinom dan Kinanti. Karena beliau adalah seorang
sufi yang mempunyai kemiripan perilaku dengan masyarakat setempat yang
cenderung berbau mistik, kedatangannya untuk menyebarkan agama Islam sudah
tentu tidak banyak menghadapi rintangan yang berarti sehingga tidak heran
banyak kalangan masyarakat biasa yang saling berdatangan mengikuti acara-acara
yang diadakan olehnya.
Jenazah
Sunan Muria dimakamkan di puncak Gunung Muria, di pusat kegiatannya sebagai
penyiar agama (Sholeh So’an: 2002:60-61; Abu Su’ud, 2003:130-131 dan Dadan
Wildan, 2012:201).
2.1.9. Sunan Gunung Jati
Berbicara
Sunan Gunung Jati pada dasarnya berbicara tentang proses pengislaman di wilayah
Jawa Barat, yang titik tolaknya dalah Wilayah Cirebon. Nama aslinya adalah
Syarif Hidayatullah, cucu dari raja Padjadjaran, Prabu Siliwangi. Dari
perkawinan Prabu Siliwangi dengan Nyai Subang Larang, lahirlah dua putra dan
satu putri, masing-masing bernama Raden Walangsungsang, dan Nyai Lara Santang.
Ketika ibunya meninggal dunia, Raden Walangsungsang dan Nyai Lara Santang pergi
meninggalkan kraton untuk menuntut ilmu kepada Syaikh Datu Sufi (Syaikh Nurul
Jati) di Gunung Ngamparan Jati. Setlah tiga tahun belajar, mereka diperintahkan
grunya untuk menunaikan ibadah haji ke Mekkah. Dan disanalah Nyai Lara Santang
bertemu dengan seorang bangsawan Arab yang bernama Maulana Sultan Mahmud
(Syarif Adbullah). Dari pernikahan sepasang suami-isteri itulah lahir seorang
bayi yng dikenal dengan Sunan Gunung Jati di Mekkah pada akhir tahun 1448
Masehi dan meninggal di Gunung Jati, Cirebon pada tahun 1570 dan ada juga yang
mengatakan 1568.
Setelah
Sunan Gunung Jati mencapai umur dewasa, ia memilih pergi ke Jawa untuk
menyebarkan agama Islam, yang saat itu pamannya, Raden Walangsungsang, sudah
bergelar Pangeran Cakrabuana. Tidak lama setelah pamannya meninggal, Sunan
Ginung Jati menggantikan kedudukannya dan berhasil meningkatkan status Cirebon
menjadi sebuah Kesultanan, dan tidak lama kemudian Cirebon resmi menjadi
kerajaan Islam yang bebas dari kekuasan Padjadjaran.
Sebutan
sunan Gunung Jati ini cukup panjang, yaitu sebagai Muhammad Nurruddin Syaikh
Sayyid Kamil Bulqiyyah Syaikh Madzhurullah Syarif Hidayatullah Makhdum Jati.
Sedangkan dalam babad-babad nama lengkap Sunan Gunung Jati itu lebih panjang
lagi yaitu Syaikh Nuruddin Ibrahim Ibnu Israil, Syarif Hidayatullah, Said Kamil
Maulana Syaikh Makhdum Rahmatullah.
Sunan
Gunung Jati dalam menyebarkan agama Islam, tidak hanya di wilayah Cirebon saja
tetapi juga di Majalengka, Kuningan, Kawali (Galuh), Sunda Kelapa, dan Banten.
Di wilayah Banten, beliau meletakkan dasar bagi pengembangan Islam dan
perdagangan orang-orang Islam di sana pada tahun 1525 M atau 1526 M. Ketika
Sunan Gunung Jati kembali ke Cirebon, Banten diserahkan kepada anaknya yang
bernama Maulana Hasanuddin, dan darinya melahirkan raja-raja Banten. Sebagai
sentral Islamisasi, di Cirebon terjadi proses Islamisasi kebudayaan setempat
dan terjadi juga pewarnaan Islam oleh budaya setempat.
Bertalian
dengan nama seorang penyiar agama Islam di Sunda, banyak orang yang sering
menyamakan dua orang nama pada seseorang, sebut saja antara Sunan Gunung Jati
dan Fatahillah atau Falatehan. Menurut Ahmad Mansur Suryanegara yang bersumber
dari Edi S. Ekadjati, bahwa Sunan Gunung Jati itu bukan Fatahillah tetapi dua
orang yang berbeda. Hal ini dijelaskan lebih lanjut bahwa Fatahillah wafat pada
1570 M, sedang Sunan Gunung Jati wafat pada 1568. Adanya perbedaan waktu meninggal
memberikan penjelasan kepada kita bahwa Sunan Gunung Jati itu bukan Fatahillah,
begitu juga sebaliknya. Menganggapi pernyataan tersebut, dalam referensi lain
lebih lanjut dijelaskan bahwa Fatahillah adalah panglima perang Kerajaan Demak
yang membantu Sunan Gunung Jati menyerang Sunda Kelapa pada tahun 1527 M. Ia
adalah menantu Sunan Gunung Jati, bukan Sunan Gunung Jati itu sendiri.
Menurut
Abu Su’ud Syarif Hidayatullah wafat tahun 1570 M sedangkan menurut Raffles,
Sunan Gunung Jati meninggal tahun 1428 M ketika usianya telah lanjut.
Jenazahnya dimakamkan di Gunung Jati Cirebon, sehingga beliau dijuluki sebagai
Sunan Gunung Jati. Beliau meninggalkan tiga orang putra yang merupakan hasil
perkawinannya dengan seorang putri dari Demak. Beliau juga mempunyai seorang
putra dan seorang putri dari hasil
perkawinannya dengan seorang selir. Putra tertuanya, Husen, kemudian
menggantikannya sebagai sultan di Cirebon dan membawahi propinsi yang terhampar
di antara Sungai Citarum dengan Tugu dan juga wilayah yang terbentang di
sebelah selatan perbukitan Kendang, yang meliputi seluruh daerah-daerah di Priang’en
dan tanah-tanah yang terhampar di sebelah timur Sungai Citarum.
Dari
sang raja inilah diturunkan putra-putranya yang kemudian diangkat menjadi
sultan-sultan di Cirebon. Hingga saat ini, mengenai putra keduanya yang bernama
Bapadin, disebutkan bahwa ia meninggalkan kerajaan Bantam yang terbentang luas
ke arah barat, dari Sungai Tang’ran hingga ke arah tenggara dan meliputi semua
daerah kepulauan yang terletak di Selat Sunda. Dari putra keduanya tersebut,
kemudian diturnkan raja-raja yang sekarang memerintah Bantam. Putra ketiganya
yang bernama Chenampui, meninggal ketika masih muda dan dikuburkan di daerah
Mandu di Cirebon.
Untuk
putra kandungnya, Kali Jantan, Sunan Gunung Jati menyerahkan wilayah yang
terbentang anatara Sungai Citarum dan Sungai Tang’ran, yang sebelumnya menjadi
bagian dari Cirebon dan Bantam. Sang raja ini dianugerahi gelar raja di Jokarta
atau Jakarta, dan setelah itu ia menempatkan ibukotanya di dekat kampung yang
namanya sama dengan gelarnya, dimana dia dan para keturunannya kemudian
melanjutkan kekuasaanya di daerah tersebut hingga akhirnya mereka dibuang oleh
orang-orang Belanda pada tahun 1619 M, di atas reruntuhan ibukota tersebut,
orang-orang belanda kemudian mendirikan kota Batavia modern yang menjadi
ibukota dari wilayah-wilayah pendudukan Belanda di Hindia Timur (Sholeh So’an,
2002:61-62; Abu Su’ud, 2003:132-133 dan Thomas Stamford Raffles, 2008:491-492).
Keahlian
yang dimiliki oleh para wali tersebut dalam rangka mengislamkan Nusantara
khususnya jawa sebagai berikut:
1. Sunan Ampel menyusun aturan-aturan syariat
Islam bagi orang-orang Jawa;
2. Sunan Gresik mengubah pola dan motif
batik, lurik, dan perlengkapan kuda;
3. Sunan Majagung (Sunan Muria)
menyempurnakan masakan, makanan, usaha, dan peralatan pertanian serta barang
pecah-belah;
4. Sunan Gunung Jati memperbaiki doa dan
mantera (pengobatan batin), firasat, jampi-jampi (pengobatan batin) dan hal-hal
yang berkenaan dengan urusan pembukaan hutan, transmigrasi ataupun pembangunan
desa baru;
5. Sunan Giri menyusun peraturan-peraturan
tata-kerajaan, tata-istana, aturan protokoler kerajaan Jawa, mengubah
perhitungan-perhitungan dari bulan, tahun, windu, masa, dan memulai pembuatan
kertas;
6. Sunan Bonang menciptakan aturan-aturan
serta kaidah-kaidah keilmuan dan memperbaiki serba-serbi gemelan, lagu, dan
nyanyian;
7. Sunan Drajat mengubah bentuk rumah, alat
angkutan (seperti tandu, joli, dan sebagainya);
8. Sunan Kalijaga berkreasi pada lagu,
langgam, nyanyian besar maupun kecil, serta gending seperti dilakukan
(gurunya), Sunan Bonang.
9. Sunan Kudus mengubah bentuk persenjataan,
perawatan, pertukangan besi dan emas, serta menciptakan pedoman pengadilan dan
perundang-undangan yang berlaku bagi orang-orang Jawa.
2.2. Lukisan Wajah Walisongo
Lukisan Walisongo tersebar luas pada
masa Orde Baru. Sorban tiga orang wali dari Walisongo berwarna kuning yaitu
Sunan Drajat (Sedayu), Sunan Gunung Jati (Cirebon), Sunan Maulana Malik Ibrahim
(Gresik). Sorban tiga orang wali dari Walisongo berwarna putih yaitu Sunan
Ampel (Surabaya), Sunan Giri (Gresik), Sunan Muria (Gunung Muria). Sorban wali
Sunan Bonang berwarna abu-abu (?) dan putih. Sorban wali Sunan Kudus (Kudus)
berwarna hijau muda. Sunan Kalijaga (Kadilangu) tanpa sorban dan hanya
mengenakan blangkon Jawa. Sorban putih Sunan Ampel, Sunan Giri dan Sunan Muria,
sorban abu-abu Sunan Bonang, bagian kanan di atas menutupi bagian kiri. Sorban
hijau Sunan Kudus dan kuning tua Sunan Maulana Malik Ibrahim, bagian kiri di
atas menutupi bagian kanan. Kedelapan wali mengenakan busana takwa. Blangkon
Jawa Sunan Kalijaga bagian kanan dan kiri bertemu di tengah-tengah, mengenakan
busana lurik walaupun bukan asli orang Yogya. (Ahmad Mansur Suryanegara,
I:117).

2.3. Kekuatan Super Seputar Walisongo
Kisah
tentang Walisongo sangat beragam dan kontroversial. Hal ini disebabkan sumber
pengambilan cerita yang ada di Indonesia sangat diragukan akurasinya sehingga
rapuh pula dari sisi ilmiahnya. Cerita dalam buku-buku Walisongo yang beredar
di Indonesia nyaris tidak ada yang bersih dari cerita klenik, majic,
khurafat, dan syirik. Sumber cerita yang ada di Indonesia tidak lepas berasal
dari cerita dari mulut ke mulut, babad, dan legenda yang kuat aroma dongengnya.
Hampir tidak ada (baca: amat sangat terbatas) sediaan dokumen asli sebagai
sumber telaah tentang sepak terjang Walisongo dalam dunia dakwah di Nusantara
(Mahrus Ali, 2007:14).
Para
Wali di gambarkan sebagai sosok yang sakti mandraguna, otot kawat tulang besi,
superman masa lalu, dan seabreg gelar super hero lainnya. Diantara
gambaran sosok Wali yang mempunyai kesaktian di luar nalar manusia misalkan
Sunan Kudus ketika mendirikan bangunan masjid Kudus dan menentukan arah kiblat
maka sang Sunan melatakkan salah satu tangannya di masjid Kudus dan meletakkan
satu tangannya lagi di Masjid Haram Mekkah. (P.S. Sulendraningrat hal. 51).
Atau
misalkan Sunan Bonang yang menghadapi seorang pendeta Hindu yang datang
langsung dari India ke Jawa dengan membawa semua kitabnya dan terdampar di
pantai setelah perahu yang dinaikinya tenggelam sehingga menyebabkan semua
kitab-kitabnya ikut tenggelam. Setelah bertemu dengan Sunan Bonang dan
menceritakan maksud kedatangan dan kondisinya maka sang Sunan pun melemparkan
bonang yang dibawanya dan seketika itu juga semua kitab-kitab kepunyaan sang
pendeta menyembul keluar dari bonang sang Sunan. Dengan serta merta sang
pendeta melihat kejadian tersebut mengurungkan niatnya untuk berdebat dengan
Sunan Bonang dan langsung merikrarkan dua kalimat syahadat.
Ada
pula kisah lainnya yang menceritakan salah seorang Sunan sholat Jum’atan di
Mekah pada siang hari dan pada sore harinya sholat Ashar di Jawa. Seorang wali
bisa meramalkan nasib, pandai menyembuhkan penyakit, bisa berjalan di atas air,
tidak basah kena hujan dan masih banyak lagi cerita-cerita kesaktian Walisongo
dalam mendakwahkan Islam di pulau Jawa. Setidaknya ada 24 kisah di luar nalar
seputar Wali Songo yang terdapat dalam buku Babad Tanah Sunda Babad Cirebon.
Menanggapi
itu semua, A. Hassan berpendapat, “Tetapi sebagian dari kaum Islam maksudnya
Wali ialah: seorang yang bisa atau pernah mengerjakan sesuatu perkara luar
biasa yang tidak dikerjakan oleh orang-orang biasa, seperti: memadamkan
kebakaran dengan hembusan, mendapat uang dengan tidak berusaha, berjalan di
atas air, menerangkan sesuatu hal yang tersembunyi, tahu apa yang tergerak di
hati kita, menyembuhkan orang-orang yang datang meminta-minta di kuburnya,
shalat Dzuhur di sisni dan shalat ‘Ashar di Mekkah, memadamkan kebakaran di
lain negeri dengan menyiram dari sini, jam 10 pagi umpamanya kelihatan di
Bangil, dan waktu itu juga kelihatan di Jakarta, dan lain-lainnya. Wali dengan
makna yang terkenal itu, tidak terdapat di zaman imam-imam yang empat, hanya
menurut kabar-kabar yang belum tentu bisa dipercaya, adanya itu jauh dari
imam-imam yang empat, bahkan hampir semua cerita-cerita tentang wali-wali itu
bikinan orang-orang yang ada maksud”. (1995:34).
jauh
sebelumnya Imam Syafi’i berkata, “Apabila kamu melihat ada orang yang bisa
berjalan di atas air dan bisa terbang di angkasa, maka janganlah cepat-cepat
tertipu, sebelum engkau menghadapkan perkaranya (sesuai atau tidak) dengan
Kitabullah” (Syarah Aqidah Thahawiyyah hal. 573 dalam Imron AM, 1990:34).
Ibnu
Taimiyyah mengakui adanya kelebihan-kelebihan yang dipunyai oleh para wali
sebagai anugerah dari Allah melalui khawariq (hal-hal yang luar biasa)
yang tidak hanya diberikan pada diri Nabi tetapi juga pada orang-orang selain
mereka. (1995:16-17).
3. Peran Walisongo dalam Menyebarkan Agama
Islam di Pulau Jawa
Ada
hal yang menarik dari pembagian tugas menyebarkan Islam di pulau Jawa yang mana
tidak merata. Untuk wilayah Jawa Barat dan Banten Islam hanya disebarkan oleh
satu Wali, sedangkan untuk wilayah Jawa Tengah Islam disebarkan oleh tiga orang
Wali, dan untuk wilayah Jawa Timur Islam disebarkan oleh lima Wali. Hal ini
bukan tanpa alasan, menurut hemat penulis faktor tersebut disesuaikan dengan
daerah dakwah dan objek dakwah wilayah tersebut. Dalam arti sederhana, Jawa
Barat dan Banten masyarakat dan kebudayaannya mirip dengan ajaran Islam
sehingga penduduk wilayah ini akan sangat mudah untuk menerima Islam sebagai
agama mereka sehingga Wali yang diterjunkan ke daerah ini cukup hanya satu
saja.
Pada
era Walisongo, dunia dakwah di tanah Jawa telah sampai pada tahapan
institusional syariah Islam dalam bentuk negara. Untuk sampai pada fase dakwah
ini sudah tentu membutuhkan waktu yang panjang dan tidak secara serta merta
dimulai atau final pada masa Walisongo tersebut. Proses Islamisasi Jawa telah
melewati kurun masa yang panjang jauh sebelumnya. Boleh dikatakan bahwa
Walisongo merupakan salahsatu dari mata rantai estafeta dakwah yang berjalan.
Namun,
harus diakui bahwa dunia dakwah memang telah mencapai keberhasilan besar pada
masa itu. Hampir dipastikan tidak ada daerah strategis di pulau Jawa yang tidak
disentuh Islam. Padahal tantangan dakwah pada masa itu tidak dapat dikatakan
mudah. Islam tumbuh dalam wilayah kerajaan Hindu Majapahit yang dianggap
berpengaruh di Nusantara.
Tetapi,
para da’i muslim berinteraksi dengan masyarakat bawah dan sekaligus membina
kalangan elit politik dalam tubuh kerajaan Majapahit melalui dakwah Islam.
Sebagai hasilnya, banyak diantara bangsawan muslim yang kemudian memeluk Islam.
Pada umumnya, para mualaf tersebut atas alasan toleransi kemudian berpindah
tempat mencari komunitas muslim lainnya di sekitar daerah pesisir yang telah
dipimpin oleh para bupati muslim pula.
Namun,
tidak sedikit pula umat Islam yang tetap mengabdi dalam kerajaan Majapahit.
Misalnya, Prof. DR. Abu Bakar Aceh menyebutkan, bahwa dalam rekruitmen pegawai
pelabuhan atau syahbandar, misalnya, Majapahit hanya menerima pegawai dari
kalangan muslim. Hal ini dilakukan untuk menjawab kebutuhan akan pegawai yang
mampu menguasai bahasa asing, terutama bahasa Arab, agar dapat memberikan
pelayanan yang maksimal terhadap para saudagar mancanegara yang kebanyakan
menganut bahasa Arab. Dari sisi ini terlihat jelas betapa harmonisnya hubungan
antara Islam dan Majapahit.
Walaupun
demikian posisi Majapahit pada era Prabu Kertabumi Brawijaya V tersebut sedang
mengalami kerapuhan secara politik dan diiringi melemahnya wibawa pemerintahan.
Salahsatu penyebabnya adalah perang Paregreg yang telah menguras sumber daya
dan imbas turunannya masih terasa sehingga mungkin akan memantik konflik pada
masa selanjutnya. Akibat paling terasa adalah melemahnya sendi-sendi
perekonomian dan wibawa politik yang memudar. Dalam kondisi carut marut
perpolitikan Majapahit tersebut, Walisongo memposisikan diri untuk tetap
melanjutkan stategi dakwah kepada mayarakat. Namun, pergeseran politik
selanjutnya membuat Walisongo harus mengubah arah strategi dakwah.
Rapuhnya
pondasi politik dan ekonomi Majapahit telah memancing pihak eksternal keraton
untuk melakukan kudeta. Dyah Ranawijaya atau Girindrawardhana, adipati Keling,
pada 1478 melakukan penyerangan terhadap Majapahit yang saat itu berada dalam
tampuk pemerintahan Brawijaya V. Maka terjadilah peralihan kekuasaan.
Giridrawardhana menggantikan posisi raja sebelumnya dengan menggunakan gelar
Prabu Giridrawardhana Brawijaya VI. Kekuasaan Brawijaya VI tidak berlangsung
lama. Pada giliran selanjutnya Girindrawardhana VI, terbunuh oleh patihnya
sendiri yang bernama Patih Udara. Patih Udara lantas menggantikannya sebagai
raja Majapahit dengan gelar Prabu Udara Brawijaya VII. Jelasnya, sampai tahun
1518 saat kesultanan Demak telah berdiri, Majapahit masih eksis sebagai sebuah
kerajaan di Jawa, meskipun telah mengalami kerapuhan struktural dan surutnya
wibawa politik. (Tiar Anwar Bachtiar, dkk hal. 94-96)
4. Konsep Dakwah Walisongo
Gagasan
awal sekaligus perencana kerajaan Islam Demak adalah Raden Rahmat atau Sunan
Ampel. Hal inilah yang kemudian dapat digunakan untuk menjelaskan peranan Sunan
Ampel dalam perencanaan sistem yang mencakup konsepsi, struktur, dan partisipasi
dakwah Walisongo di tanah Jawa. Hal ini sesuai dengan ajaran Rosulullah Saw.,
bahwa barangsiapa yang memiliki konsep maka dialah yang bertanggung jawab
sebagi pelaksana konsep tersebut.
Walisongo
adalah sebuah majelis atau dewan. Nama sanga tidak selalu menunjukkan
jumlah bilangan “sembilan”. Departemen pendidikan dan kebudayaan Gresik sendiri
malah tidak memasukkan Sunan Gresik sebagai anggota Walisongo. Hal ini dapat
dijelaskan bahwa pergantian struktur bisa saja terjadi setiap ada wali yang
meninggal. Sebagai contoh pasca wafatnya Sunan Gresik, Raden Patah atau Sunan
Kota kemudian masuk menjadi elit Walisongo.
Pasca
wafatnya Sunan Gresik, Sunan Ampel diangkat sebagai sesepuh Walisongo yang
berperan sebagai mufti dan pimpinan agama se-tanah Jawa. Walaupun beliau
telah merancang pendirian Kesultanan Demak, namun Sunan Ampel membuat fatwa
untuk tidak menyerang Majapahit. Alasannya, di antara sekian putra Majapahit,
hanya Raden Patah saja yang akan sesuai untuk menggantikan tahta ayahnya.
Selain itu, jika terjadi serangan Demak atas majapahit akan menimbulkan fitnah
dan preseden buruk di masa yang akan datang.
Fatwa
tersebut sempat memantik konflik ringan dengan munculnya faksi Tuban yang
terdiri dari kalangan ulama muda. Mereka berharap Islamisasi Jawa dilakukan
secara revolusioner dengan mempercepat runtuhnya Majapahit melalui serangn
dadakan. Pertentangan kecil ini dapat diredam, semua pihak akhirnya dapat
menerima putusan fatwa dari mufti besar mereka.
Pada
masa Sunan Ampel, selain anggota elit Walisongo, di bawahnya juga memiliki
struktur berupa tim atau satuan tugas untuk urusan dakwah tertentu. Di antara
satuan tugas yang terkenal adalah santri sangalas (artinya: santri
sembilan belas) dan santri rolikur (artinya: santri dua puluh dua). Juga
terdapat ulama-ulama lain yang tidak masuk dalam struktur elit Walisongo,
misalnya Sunan Bayat (Bupati Semarang) dan Sunan Geseng. Ada pun setiap anggota
elit majelis dakwah Walisongo memiliki tugas secara khusus sebagai berikut:
1. Sunan Ampel sebagai pucuk pimpinan
Walisongo, mufti besar, dan ketua dewan ahlul halli wal aqdi.
2. Sunan Kudus sebagai senopati angkatan
perang Kesultanan Demak.
3. Sunan Muria menangani dakwah di daerah
terpencil yang jauh dari pusat atau ibu kota Negara. Pada masa sebelumnya
dakwah Islam lebih banyak difokuskan ke daerah pesisir pantai dan ibu kota guna
menenangkan kalangan menengah ke atas. Sehingga pada akhirnya diputuskan untuk
melakukan perluasan cakupan dakwah di daerah pegunungan dan pedesaan sebagai
tanggung jawab dan amanah yang dibebankan kepada Sunan Muria.
4. Sunan Drajad bertugas menangani urusan
sosial seperti penyaluran santunan kepada fakir miskin, anak yatim, dan lain
sebagainnya.
5. Sunan Kalijaga memiliki tugas sebagai supervisor
yng melakukan pengawasan dan observasi terhadap jalannya dakwah di berbagai
wilayah, baik yang dilakukan oleh kalangan elit Walisongo, satuan tugas khusus,
ulama-ulama, maupun santri yang tersebar di seluruh pulau Jawa. Tugas beliau
yang menuntut seringnya bepergian (safar fi sabilillah) juga
dimanfaatkan sekaligus untuk menakwahkan Islam, sehingga Sunan Kalijaga di
kenal sebagai mubaligh keliling. Dari sini jelas bahwa nama Kalijaga sebenarnya
adalah pengucapan dari Qadli Zaka yang maksudnya terkait peran beliau
sebagai pelaksana pembersihan karena tugas beliau yang bersifat “menyapu ulang”
Selain
itu terdapat juga Wali yang memiliki tugas dakwah yang bersifat kewilayahan.
Artinya, mereka memiliki tanggung jawab untuk menyebarkan agama Islam
berdasarkan pembagian area atau wilayah kerja tertentu. Misalnya Sunan Giri
ditugaskan berdakwah di daerah Blambangan yang notabene pada masa itu merupakan
daerah dengan pengaruh ajaran Syiwa-Budha yang sangat kuat.
Terkait
dengan berdirinya Kesultanan Demak, dewan Walisongo memainkan peran dengan
bertindak sebagai lembaga ahlul halli wal aqli. Majelis dakwah ini
menetapkan Raden Patah sebagai pengemban kekuasaan eksekutif dalam
penyelenggaraan negara dan pelaksanaan aturan syariah melalui kepemimpinan.
Maka sultan Demak hakikatnya merupakan mandataris majelis Walisongo, dimana
secara sadar dan ikhlas berada di bawah kontrol dewan ulama tersebut.
Pasca
wafatnya Sunan Ampel, kedudukannya sebagai mufti dan sesepuh para wali
digantikan oleh Sunan Giri. Fatwa awal yang dikeluarkan oleh Sunan Giri adalah
izin untuk melakukan penyerangan terhadap Majapahit sebagaimana telah diusulkan
oleh faksi Tuban terdahulu. Pada masa Sunan Ampel masih hidup, Sunan Giri
termasuk pihak yang mendukung fatwa Sunan Ampel untuk tidak menyerang
Majapahit. Namun pada masa Sunan Giri menjabat sebagai mufti ini,
kondisi konsetelasi kekuasan telah berbeda, Majapahit saat itu sedang berada
dalam kekuasaan Ranawijaya atau Girindrawardhana. Kekuasaan Girindrawardhana
sebagaimana telah diceritakan sebelumnya diperoleh melalui aksi kudeta yang
dilakukan tehadap Prabu Kertabhumi atau Brawijaya V. Oleh karena itu, serangan
ke Majapahit yang hendak di lakukan oleh Kesultanan Demak hakikatnya adalah
upaya untuk merebut Majapahit agar bisa dikembalikan kepada yang berhak, yaitu
Raden Patah, putra Prabu Kertabhumi sendiri. Belum lagi serangan ke Majapahit
dilakukan oleh Kesultanan Demak, di Majapahit sendiri ternyata telah terjadi
perebutan kekuasaan dimana Patih Udara melakukan kudeta terhadap
Giridrawardhana atau Brawijaya VI.
Melihat
semakin mapannya pondasi kepemimpinan Kesultanan Demak, Patih Udara menggunakan
gelar Prabu Brawijaya VII merasa khawatir dan teramcam kekuasaannya. Patih
Udara kemudian meminta bantuan Porugis di Malaka. Melihat gelagat tersebut maka
setelah itu tentara Demak di bawah komando Adipati Yunus menyerang Portugis di
Malaka dan sekaligus menyerang Majapahit untuk membubarkan persekutuan yang
terjadi. Seandainya Majapahit tidak segera diserang pada masa itu, maka dapat
dipastikan bahwa Portugis akan menjajah tanah Jawa lebih cepat dari masa agresi
Belanda. Terkait struktur Walisongo pada masa kepemimpinan Sunan Giri, tidak
ada catatan yang pasti.
5. Aksi Dakwah Walisongo
Kesuksesan
dakwah era Walisongo banyak ditentukan oleh kekompakan gerakan dan kesadaran
masing-masing individu untuk mengambil peran serta dalam kerangka dakwah dan
jamaah. Perencanaan yang matang, pengorganisasian yang tepat, dan penguasaan
medan turut memberi andil bagi keberhasilan terhadap Islamisasi Jawa. Berikut
ini beberapa wujud partisipasi dakwah di era Walisongo.
A. Aspek Kaderisasi
a. Pendirian Pondok Pesantren
Pondok pesantren
merupakan pengembangan lembaga yang mirip dengan mandala milik umat Hindhu.
Perancang perencana institusi pendidikan Islam berupa pesantren di Jawa ini
adalah Syaikh Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik). Konsep pesantren kemudian
diikuti dan dikembangkan oleh para wali lainnya. Dalam pesantren juga
dikembangkan ilmu olah kanuragan yang berguna untuk mempetangguh mental dan
fisik para santri sehingga siap untuk menghadapi medan dakwah dan sekaligus
untuk menyiapkan prajurit negara yang memiliki wawasan keagamaan yang mumpuni.
Harapannya, Kesultanan Demak akan memiliki personil militer yang religius.
Namun demikian, konsep dan
pengembangan pesantren sendiri terlihat banyak dipengaruhi oleh sistem Madrasah
Nizhamiyah di Baghdad yang saat itu sangat dikenal di seluruh dunia, terutama
dalam hal pengajaran ilmu-ilmu dasar keagamaan. Hal yang diadaptasi dari
mandala oleh pesantren-pesantren zaman Islam hanya dalam hal penambahan
pelatihan olah kanuragan. Sisanya, sistem pengajaran pesantren sebagian besar
mengadopsi sistem yang dikembangkan di Madrasah Nizhamiyah Baghdad.
b. Tugas Belajar
Guna memperkaya
wawasan keagamaan para santrinya, tidak jarang para wali mengutus santri
tersebut untuk memperdalam sebuah ilmu dengan berguru kepada wali yang lain. Bahkan
tidak jarang pula mengirim mereka untuk belajar ke mancanegara. Misalnya, Raden
Paku (Sunan Giri) dimasukan ke madrasah Sunan Ampel oleh ibu angkatnya Nyi Gede
Maloka. Setelah cukup menuntut ilmu, Raden Paku dan seorang rekannya Maulana
Makdum Ibrahim (putra Sunan Ampel sendiri) diperintahkan oleh Sunan Ampel untuk
berangkat haji dan sekaligus menimba ilmu dri ahli-ahli agama di Mekah. Perlu
diketahui bahwa pada masa itu perjalanan ke Mekah dilakukan dengan kapal laut
dan membutuhkan waktu sekitar enam bulan. Maka jamaah haji biasanya akan merasa
rugi jika hanya berada di Mekah selama kurun waktu pelaksaan ibadah haji saja.
Umumnya mereka tinggal di Mekah sekian masa guna memperdalam keilmuan agama.
c. Pendidikan Dini
Para wali juga
telah menyiapkan pendidikan kader sejak anak usia dini dengan membentuk
kejiwaan dan keyakinan mereka. Pembinaan yang tepat sejak belia akan mampu
mengarahkan kecenderungan pemikiran dan tindakan mereka saat dewasa. Dunia
anak-anak adalah dunia bermain yang harusnya diwarnai dengan kegembiraan. Maka
diciptakanlah sejumlah permainan edukatif dan lagu-lagu dolanan
(permainan) yang tidak saja mendidik namun juga dijiwai dengan semangat dan
nilai keluhuran. Salahsatu contoh yang bisa ditampilkan, misalnya, sebuah lagu
dolanan gubahan Sunan Giri sebagai berikut: “Padang bulan, ayo gage dolanan,
dolanane ana ing latar, ngalap padang ngilar-ngilar, nundung begog hangetikar”.
(Terang bulan, ayo lekas bermain, permainan bertempat di halaman, memanfaatkan
terangnya sinar bulan, guna mengusir gelap yang lari terbirit-birit). Lagu
tersebut memiliki makna simbolis bahwa Islam bukan saja merupakan penerangan
hidup, namun juga menjadi cahaya yang akan mengusir kegelapan hati dan
kebodohan.
B. Bidang Budaya
Rakyat Majapahit
adalah masyarakat yang menggandrungi kesenian. Kenyataan ini memunculkan
peluang bagi para wali untuk menggarapnya.
a. Seni Suara
Para wali menciptakan sejumlah kerangka tembang,
diantaranya adalah 11 tembang yang dikenal dengan sebutan tembang macapat. Tembang
macapat sendiri adalah simbol keteraturan yang hanya dapat diperoleh
dengan pendisiplinan diri. Setiap orang dapat menciptakan lagu namun harus
berpatokan pada guru lagu (dhong dhing), guru wilangan,
dan guru gatra. Guru lagu adalah jatuhan suara vokal pada setiapa akhir
larik lagu (gatra). Guru wilangan disefinisikan sebagai jumlah suku kata (wanda)
pada setiap larik lagu. Sedangkan guru gatra adalah jumlah larik lagu dalam
setiap bait (pada atau pupuh). Keteraturan tersebut harus
diikiti. Jika salah satu saja aturan tersebut ditinggalkan maka sebuah gubahan
lagu tidak bisa disebut sebagai tembang macapat.
Sedangkan tembang macapat menurut tradisi antara lain:
Dangdanggula diciptakan oleh Sunan Kalijaga sebagai hasil pengabungan
melodi Arab dan Jawa, Pocung dan Asmarandana oleh Sunan Giri, Durma
oleh Sunan Bonang, Maskumambang dan Mijil oleh Sunan Kudus, Sinom
dan Kinanthi oleh Sunan Muria, dan Pangkur oleh Sunan Drajat.
b. Penciptaan Wayang
Wayang pada dasarnya adalah gabungan antara seni
cerita dan seni suara yang melibatkan unsur kreatifitas pertunjukan lainnya.
Bentuk wayang pengembangan dari wayang era Majapahit yang umumnya berupa wayang
beber dan di gambar dalam rupa manusia. Wujud wayang ciptaan Walisongo
telah distilisasi sehingga tidak lagi berwujud layaknya manusia sewajarnya.
Segi cerita pedhalangan pun telah dirombak substansinya. Terjadi
demitologisasi dan desakralisasi terhadap sejumlah ajaran yang pernah hidup
pada masa sebelum Islam di tanah Jawa. Dewa tidak lagi menjadi sesembahan.
Mereka juga bisa benar dan pada kesempatan yang lain
tidak luput dari dosa kesalahan. Kahyangan bisa diobrak-abrik oleh para raksasa
dan para dewa bisa kalah perang melawan serbuan ini. Bahkan dalam sejumlah
cerita yang berkembang para dewa sampai harus mencari bantuan kepada satria bumi
untuk memulihkan kembali harmoni kehidupan dunia kahyangan. Kisah-kisah
demikian menunjukkan kejeniusan salah seorang wali yaitu Sunan Kalijaga untuk
mengarahkan keyakinan masyarakat bahwa dewa bukanlah apa-apa, hanya Hyang
Tunggal, yaitu Allah Rabb yang Maha Kuasa.
Selain itu dalam sejumlah lakon wayang menunjukkan,
bahwa Sunan Kalijaga memiliki pandangan futuristik yang akurat. Misalnya, dalam
kisah “Ambangun Candi Saptaarga” diceritakan bahwa Pandawa bermaksud membangun
makan (candi) untuk menghormati kakek mereka Begawan Abiyasa. Sejumlah pihak
nampaknya berusaha menghalangi proses pembangunan yang telah dirancang.
Tersebutlah seorang putri yang bernama Mustakaweni yang kemudian memanfaatkan
situasi kekosongan kerajaan Amarta yang ditinggalkan oleh para Pandawa karena
konsentrasi pada pembangunan di Saptaarga. Mustakaweni ini terprovokasi untuk
mencuri Jimat Kalimusada milik Pandawa.
Muncul pula Dewa Srani yang kemudian merusak (angslup)
ke dalam tubuh Mustakaweni demi melaksanakan niat jahatnya. Dengan angslupnya,
Dewa Srani ini, Mustakaweni kemudian mampu menyamarkan dirinya menjadi
salahsatu satriya putra Amarta. Niatan Mustakaweni akhirnya terbongkar. Terjadi
pertarungan seru dimana Pandawa hampir saja mengalami kekalahan. Sampai
akhirnya muncullah seorang putra Pandawa yang baru saja turun dari pertapaan
yang mampu mengatasi keadaan. Atas nasehat Kresna, putra Pandawa itu mampu
mengalahkan Mustakaweni dan menghancurkan konspirasinya bersama Dewa Srani
dengan menggunakan panah telanjang.
Cerita di atas adalah sebuah simbolisasi bahwa
keyakinan Islam yang diwakili oleh pusaka Kalimusada (kalimat syahadat)
pada masa yang akan datang akan dimusuhi oleh ajaran Nashrani. Ajaran tersebut
akan membonceng (angslup) melalui penjajah asing. Cara mengalahkannya
adalah dengan menelanjangi ajaran mereka. Sebab di sanalah kelemahan sebenarnya
dari doktrin ajarannya. Awalnya kata “Kalimusada” dalam sejumlah karya kuno era
Hindu merupakan kitab milik Pandawa yang bisa berubah menjadi tumbak yang
menyala-nyala. Namun, pada masa Islam, Kalimasada diubah pengertiannya
menjadi kalimat syahadah.
Cerita demikian memberikan pesan agar kaum muslimin
hendaknya senantiasa waspada. Agaknya Sunan Kalijaga mengubah lakon tersebut
pasca Demak terlibat konflik dengan sejumlah bangsa asing Barat, seperti
Portugis di Malaka. Perlu diketahui Sunan Kalijaga termasuk wali yang panjang
umur. Selain itu pada masa selanjutnya, juga muncul cerita-cerita wayang yang
menunjukkan adanya pengaruh Islam misalnya lakon “Semar Munggah Kaji” (Semar
Naik Haji).
c. Tata Kota
Kota Praja atau bangunan keraton atau Kadipaten di
tanah Jawa selalu tidak pernah meninggalkan empat hal yaitu, istana, alun-alun,
beringin kembar, dan Masjid Agung. Alun-alun berasal dari kata al-laun yang
berarti warna. Jadi alun-alun adalah tempat berkumpulnya berbagai warna atau
ragam yang menunjukkan beratunya antara penguasa dan rakyat jelata. Alun-alun
memiliki empat sisi yang dimaksudkan bahwa kemanunggalan tersebut harus
melalui syariat, tarikat, hakikat, dan makrifat. Sedangkan beringin
kembar (waringin kembar, Jawa) berasal dari kata wara’iin yang
artinya kehidupan harus senantiasa diwarnai dengan kehati-hatian.
Jumlah pohon yang dua buah itu dimaksudkan bahwa
kehati-hatian yang dimaksud harus didasarkan pada al-Qur’an dan as-Sunnah. Maka
kemudian disediakan Masjid Agung sebagai tempat peribadatan guna menggawangi
semua keperluan tersebut. Sedangkan istana berada di tempat yang dekat dengan
masjid, alun-alun, dan beringin kembar. Hal ini dimaksudkan bahwa pemimpin hendaknya
mengawasi pelaksanaan syariat Islam dalam masyarakat. Letak istana biasanya
membelakangi gunung dan menghadap ke laut. Maksudnya pemimpin hendaknya
menghidari diri dari sifat kesombongan dan sebaliknya harus bersikap pemurah,
sabar, serta pemaaf sebagaimana luasnya lautan.
Menurut sejarawan E. Mold, Sunan Kalijaga sendiri
adalah ahli arsitektur yang pintar memilih bahan bangunan yang awet. Beliau
juga ahli dalam teknis, salahsatu buktinya terdapat pada kontruksi tiang tatal
yang ada di masjid Demak. Tiang tatal ciptaan Sunan Kalijaga ini terbuat dari
potonga-potongan kayu yang disusun sedemikian rupa dengan menggunakan keahlian
teknik tingkat tinggi sehingga masih dapat bertahan sampai sekarang.
6. Refleksi untuk Generasi Setelah Walisongo
Dakwah
Walisongo hendaknya dipandang sebagai sebuah proses. Dalam tahapan dakwah zaman
tersebut, mereka tergolong telah menuai kesuksesan besar. Rahasia kesuksesan
tersebut terlatak pada kebersamaan, kepatuhan terhadap bimbingan ulama,
keteladanan yang bersumber dari al-Qur’an dan as-Sunnah, kemampuan, perencanaan
yang akurat, pengorganisasian yang matang, dan tidak menafikan keberadaan Allah
Swt.
Sebagai
sebuah proses, dakwah Walisongo adalah seruan yang belum usai. Menggaung
zamannya dan melampaui masanya, namun butuh sentuhan keseimbangan dari generasi
berikutnya. Sesungguhnya sentuhan berkeseimbangan yang dimaksud adalah tindakan
pada setiap generasi untuk membangun tradisi dakwah. Hakikatnya dakwah adalah
proses estafeta dan alih generasi dari masa ke masa. (Tiar Anwar Bachtiar, dkk
94-106)
Pada
awal berdakwah, Sunan Ampel menginginkan agar masyarakat menganut kepercayaan
yang murni, tanpa disisipi oleh budaya atau adat-istiadat yang ada sebelumnya.
Ia tidak setuju dengan adat-istiadat yang selama itu berkembang di Jawa,
seperti selamatan, kenduri, sesaji, dan sebagainya masih melekat pada jiwa
seseorang yang telah memeluk agama Islam. Namun para wali yang lainnya
berpendapat bahwa untuk sementara waktu semua kebiasaan yang sudah ada tetaplah
dibiarkan berjalan, karena dengan adanya pertimbangan bahwa tidak mungkin
masyarakat dapat meninggalkan secara serentak sehingga begitu ia mentolelir
pelaksanaannya.
Kekhawatiran
Sunan Ampel yang sangat mendalam terhadap perilaku yang selama ini sudah
bersarang pada jiwa masyrakat dan sulit untuk disirnakan akan dianggap sebagai
ajaran Islam, dapat diredam oleh kebijakan Sunan Kalijaga, dan dengan didukung
oleh Sunan Kudus dalam rangka memberikan perhatian kepada penganut Hindu dan
Budha. Sunan Kalijaga mengusulkan kepada para wali, terutama kepada wali
tertua, Sunan Ampel, untuk mewarnai perilaku mereka dengan menyusupkan atau
mengantinya dengan hal-hal yang bersumber dari Islam. Dengan demikian, yang
sangat berperan dalam mengislamkan perilaku-perilaku pada zaman Hindu dan Budha
tidak lain adalah Sunan Kalijaga, yang sudah barang tentu dengan dukungan dan
bantuan dari para wali lainnya. (Sholeh So’an, 2002:55).
Dalam
percakapannya, Sunan Ampel pernah menegur Sunan Kalijaga yang mengadakan
tahlilan, “Jangan diteruskan perbuatan semacam itu karena termasuk bid’ah”.
Sunan Kalijaga menjawab, “Biarlah nanti generasi setelah kita ketika Islam
telah tertanam di hati masyarakat yang akan menghilangkan budaya tahlilan itu”.
Kisah
ini disebutkan dalam sebuah buku tentang Islam di Indonesia yang tersimpan di
sebuah museum di negeri Belanda. Sumber tentang walisongo yang dipercaya
dokumen asli dan valid tersimpan di museum Leiden, Belanda. Tersebut dokumen
kuno yang kemudian disebut sebagai “Het Book van Mbonang” (Sunan Mbonang adalah
putera dari Sunan Ampel). Dari dokemen ini telah dilakukan beberapa kali kajian
oleh peneliti. Diantaranya thesis Dr. Bro Schrieke tahun 1816, Leiden, disebut
sebagai “Primbon” dan thesis Dr. Jgh Gunning tahun 1881, Leiden, disebut
sebagai “Primbon II”. Yang kemudian menggunakan dua literatur ini adalah
Dr. Da Rinkers tahun 1910 dalam thesisnya yang berjudul “De Heidigen van Java”,
Leiden, dan tahun 1921 berjudul “Een Javansche Primbon uit de Zeistiende
Eeuwe”, Leiden, dan Dr. Pj Zoetmulder Sj, tahun 1935, berjudul “Pantheisme en
Monisme in de Javansche Soeloek Literatuur”, Leiden. Dokumen lain yang
ditemukan kemudian adalah lembaran daun lontar (rontal) sebanyak 23 lembar,
tersimpan di Museum Umum Ariostea/Museum Marquis Cristino Bevilacqua di
Ferrara, Italia. Secara umum isi dokumen tersebut menceritakan suasana
saresehan para wali yang dilangsungkan di kediaman Sunan Giri di Girikedaton
Gresik. Selanjutnya dokumen yang kemudian disebut dengan “Kroprak Ferrara” ini
pada tahun 1962 dibuat kopi (tiruan) untuk dikirim ke Leiden Belanda agar bisa
dikaji oleh para ahli bahasa Sansekerta dan Jawa Kuno dari negeri Belanda.
(Mahrus Ali, 2007:14-15).
Kemandekan
dakwah Walisongo yang dilakukan oleh generasi setelahnya dapat terlihat dengan
tidak dirubah atau bahkan dilestarikannya acara tahlilan oleh geberasi
berikutnya. Bahkan generasi selanjutnya justru mendompleng Sunan Kalijaga untuk
melegitimasi acara tahlilan tersebut. Padahal kalau saja generasi berikutnya
membaca secara utuh pesan dari Sunan Kalijaga, seharusnya mereka meluruskan
acara tahlilan itu.
Daftar
Pustaka
Abdullah,
Rachmad. 2016. Walisongo: Gelora Dakwah dan Jihad di Tanah Jawa (1404-1482).
Sukoharjo: al-Wafi Publishing. Cet. III.
Ali,
Mahrus. 2007. Mantan Kiai NU Menggugat Tahlilan, Istighosah, dan Ziarah Para
Wali. Surabaya: Laa Tasyuk. Cet. X.
AM,
Imron. 1990. Kitab Manakib Syekh AbdulQadir Jaelani Merusak Akidah Islam. Bangil:
Yayasan al-Muslimun. Cet. VI.
Bachtiar,
Tiar Anwar, dkk. tt. Sejarah Nasional Indonesia I. Jakarta: Andalusia
Islamic Education & Management Services.
Friska Agung
Insani.
Giri
MC, Wahyana. 2010. Sajen dan Ritual Orang Jawa. Yogyakarta: Narasi. Cet.
I.
Hassan,
A. 1995. Mengenal Nabi Muhammad SAW. Bandung: CV. Diponegoro. Cet. I.
Helmiatai.
2011. Sejarah Islam Asia Tenggara. Riau: Zanafa Publishing. Cet. I.
Malkhan,
Abdul Munir. Tt. Seh Siti Jenar dan Ajaran Wihdatul Wujud. Yogyakarta:
PT. Percetakan Persatuan.
Mubarok,
Jaih. 2004. Sejarah Peradaban Islam. Bandung: Bani Quraisy. Cet. II.
Nasional,
Departemen Pendidikan. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga.
Jakarta: Balai Pustaka. Cet. III.
Raffles,
Thomas Stamford. 2008. The History of Java. Penerjemah: Eko
Prasetyaningrum, Nuryati Agustin, dan Idda Qoryati Mahbubah. Yogyakarta: PT.
Buku Kita. Cet. I.
Ricklefs,
M.C. 2008. A History of Modern Indonesia Since 1200-2008. Edisi
Indonesia: Sejarah Indonesia Modern 1200-2008. Penerjemah: Tim Penerjemah
Serambi. Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta. Cet. I.
Risalah
Jum’ah. No. 682 Tahun XV Rajab 1438 H / 31 Maret 2017 M.
Risalah.
No. 11 Tahun. XXXXVII Shafar 1431 / Pebruari 2010.
So’an,
Sholeh. 2002. Tahlilan: Penelusuran Historis atas Makna Tahlilan di
Indonesia. Bandung: Agung Ilmu. Cet. I.
Su’ud,
Abu. 2003. Islamologi: Sejarah, Ajaran, dan Peranannya dalam Peradaban Umat
Manusia. Jakarta: Rineka Cipta. Cet. I.
Sulendraningrat,
P.S. tt. Babad tanah Sunda: Babad Cirebon.
Suryanegara,
Ahmad Mansur. 2013. Api Sejarah. Bandung: Salamadani. Cet. VI.
Taimiyyah,
Ibnu. 1999. Al-Mu’jizatu wa Karamatu al-Auliya’. Edisi Indonesia: Mukjizat
Nabi & Kemarat Wali. Penj. Ali Yahya, S.Psi. Jakarta: Lentera
Basritama. Cet. I.
Wildan,
Dadan. 2012. Sunan Gunung Jati. Tangerang: Salima. Cet. I.
Yatim,
Badri. 2004. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: PT. Raja Grafindo
Persada. Cet. XVI.
Zainuddin,
dkk. 2005. Sejarah Kebudayaan Islam: untuk kelas IV Diniyyah Awaliyah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar